Tumbuh 11%, Negara Tetangga ‘Nyontek’ Jagadiri – UPEKS
UTAMA

Tumbuh 11%, Negara Tetangga ‘Nyontek’ Jagadiri

10.8.ganti pengusaha

PERTAMA DI INDONESIA.Presiden Direktur Asuransi Jagadiri, Reginald Y Hamdani memberikan penjelasan di Kantor Asuransi Jagadiri, Jakrata, pekan Lalu.AKBAR /UPEKS

Mengintip Kantor Asuransi Online Pertama di Indonesia

Asuransi e-commerce memang tergolong baru di Indonesia. Hanya ada satu perusahaan asuransi berbasis online di Indonesia, yaitu Asuransi Jagadiri. Pertumbuhannya sudah mengalahkan negara tetangga yang jauh lebih dulu memperkenalkan bisnis asuransi model ini. Indonesia pun jadi tempat belajar negara tetangga.

Laporan : Muhammad Akbar

————————

Jakarta

Negara-negara maju yang telah lebih dulu memperkenalkan bisnis asuransi dengan model e-commerce, dibuat terbelalak oleh Asuransi Jagadiri. Meski baru beroperasi sekitar 20 bulan di Indonesia, namun kecepatan penetrasi pasarnya mampu mengalahkan negara-negara tetangga seperti Singapore, Malaysia, dan India. “Mereka heran, kok pertumbuhan kita di Indonesia sangat pesat, mencapai 11%. Sementara mereka yang sudah lebih dulu di bisnis ini hanya tumbuh sekitar 9%.

Mereka pun akhirnya belajar ke kita,” ujar Reginald Y Hamdani, Presiden Direktur Jagadiri Asuransi didampingi Senior Consultant Communication Cetta Satkaara, Ruth Mokalu di kantornya pekan lalu. Dirinya pun pada awalnya surprise melihat trend itu. Dia tak menyangka dalam kurun waktu yang relatif singkat itu perusahaan yang dipimpinnya bisa mencatatkan pertumbuhan yang mampu mengalahkan perusahaan asuransi di negara tetangga.

Dia mengatakan, hingga pada pertengahan tahun ini, pertumbuhan premi cukup signifikan dibanding tahun sebelumnya. Mencapai angka Rp23 miliar dengan jumlah pemegang polis berkisar 20.000,-an. “Dibanding tahun lalu, kita ada kenaikan tiga kali lipat,” ujarnya. Meski pangsa pasarnya masih kecil dibanding asuransi-asuransi konvensional, namun dia optimis bisnis asuransi online akan terus tumbuh. Apalagi timnya telah beberapa kali mencoba ‘resep-resep’ marketing yang dinilai cukup efektif dalam mendongkrak bisnis.

“Karena memang bisnis kita ini tergolong baru, tantangannya juga berbeda dengan asuransi pada umumnya. Kita lebih banyak melakukan test-test marketing digital. Bagaimana melakukan placement iklan baik itu offline maupun online. Membuat aneka macam iklan kreatif. Dari uji coba itu kita lihat mana yang paling berhasil,” tambahnya. Secara garis besar, model marketing yang paling efektif meraup banyak nasabah saat ini lanjutnya, masih berbentuk telemarketing. Dimana komposisinya berkisar 82% dan selebihnya 18% melalui digital marketing.

Dalam menjalankan bisnisnya, Asuransi Jagadiri memang dilengkapi dengan website yang mampu memberikan informasi kebutuhan masyarakat, mulai dari pembelian polis hingga klaim. Selain itu, Asuransi Jagadiri juga dipersenjatai dengan aplikasi yang bisa digunakan di smartphone. “Kami merancang aplikasi ini agar memudahkan nasabah kita,” ujarnya. Aplikasi itu memungkinkan masyarakat untuk melakukan pembelian polis berdasarkan kebutuhannya. Misalnya saja, pembelian asuransi ketengan yang dibandrol mulai Rp5.000 untuk tiga jam.

“Asuransi ini kita sebut asuransi ketengan. Kalau bapak misalnya ingin melakukan aktivitas beresiko, dengan aplikasi ini bisa membeli polis asuransi untuk masa 3 jam. Tapi umumnya yang banyak memesan memang untuk jangka waktu sehari, karena harganya beda tipis sekali. Hanya Rp8.000 per hari,” ujarnya. Berdasarkan data demografi, saat ini jumlah pemegang polis asuransi online masih didominasi kalangan muda dengan usia dibawah 30 tahun mencapai 59% yang tersebar di berbagai kota besar di Indonesia. Transaksi sebagian besar masih menggunakan media kartu kredit, walaupun kedepannya pihak Asuransi Jagadiri mulai mengembangkan sistem pembayaran melalui berbagai chanel seperti minimarket. (*)

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!