Modus Pelunasan Utang Resahkan Perbankan – UPEKS
UTAMA

Modus Pelunasan Utang Resahkan Perbankan

ojkMAKASSAR,UPEKS.co.id — Perbankkan di Sulawesi Selatan (Sulsel) resah dengan ulah penawaran dan ajakan pelunasan utang yang mengatasnamakan PT Swissindo World Trust Internasional.

Selain berpeluang mengintimidasi nasabah, PT Swissindo tak segan melakukan demonstrasi yang mengganggu pelayanan dan kegiatan administratif.

Atas dasar itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 6 Sulampua, Bank Indonesia Wilayah Sulawesi Selatan, Polda Sulsel, dan perbankkan melakukan koordinasi guna meminimalisir langkah instansi ataupun perusahaan yang dimaksud melalui edukasi ke publik lewat media, Rabu (10/8/16).

Kepala OJK Regional 6 Sulampua, Bambang Kiswono menjelaskan, meski sejauh ini belum ada pengaduan resmi yang masuk, namun sudah ada koordinasi atas keluhan dari beberapa bank.

Kata Bambang, beberapa bank mengaku telah didatangi oleh Swissindo bersama para nasabahnya yang bermaksud ingin melakukan pelunasan utang dengan modal sertifikat yang tidak diketahui sumbernya dari mana.

“Makanya, kami hari ini bersama beberapa bank seperti Danamon, BCA, Lippo Bank, Bank CIMB Niaga, BRI, Mandiri, BNI, dan Bank Mandiri mengklarifikasi bahwa hal itu tidak benar,” kata Bambang.

Menurut Bambang, bagi debitur yang masih memiliki kewajiban kredit kepada industri keuangan diminta tetap melanjutkan kewajiban tersebut sesuai yang disepakati dalam perjanjian kredit.

“Dan yang merasa dirugikan baik nasabah atau industri keuangan untuk melakukan upaya hukum, agar ada kepastian hukum dan mencegah meluasnya kejadian yang sama,” imbaunya.

Di tempat yang sama, Pemimpin Wilayah BRI Makassar, Ngatari, mengaku, pihaknya telah beberapa kali didatangi oleh Swissindo. Bahkan, tak segan melakukan demonstrasi yang dinilai menganggu jalannya kegiatan pelayanan ke nasabah.

“Makanya kami melakukan edukasi ke nasabah kami untuk tidak percaya ini dan tetap komitmen sesuai perjanjian utang semula,” aku Ngatari.

Kabid Humas Polda Sulselbar, Kombes Pol Frans Barung Mangera, mengatakan, menyikapi hal itu pihaknya mengindikasi kemiripan pola pergerakan Yayasan Misi Islam Ahlusunnah Waljama`ah (Yamisa).

Bahkan, kata Frans Yamisa adalah orang yang sama yang ada di Swissindo. Menggunakan alamat kantor fiktif yang sudah tiga kali berubah dan gerakan mereka lebih masif di media sosial.

“Informasinya sudah tiga kali pindah kantor tapi ditelusuri ternyata kantornya tidak ada. Mereka gunakan sistem informasi internet untuk menjalankan apa yang mereka inginkan,” jelasnya.

Sejauh ini, tambahnya, pihaknya telah menindaknjuti hal tersebut ke pihak Mabespolri untuk dilakukan pengecekan dan melacak lebih lanjut atas dasar pelanggaran yang dilakukan dari penyebaran informasi bohong.

“Ada dua bukti yang ditindaklanjuti, pertama ada laporan yang masuk dan kedua ada bukti yang ditemukan. Dan mereka diduga menyebar informasi bohong ke masyarakat, makanya atas dasar itu kita minta Mabespolri melacaknya,” ujarnya.

Dia pun meminta kepada masyarakat Sulawesi Selatan untuk mengantisipasi janji dan tawaran pelunasan utang dari lembaga apapun pun utamanya Swissindo melalui koordinasi ke pihak otoritas, OJK.”Karena masyarakat lebih gampang dipengaruhi psikologinya,” pungkasnya.

Sekedar diketahui, transaksi Yayasan Yamisa yang dipimpin KH. Abdul Rahman mencairkan dana sebesar Rp 2.500 Triliun yang konon sudah ditransfer ke BII, BI, BCA, dam BNI dari Swiss. Yamisa sendiri singkatan dari Yayasan Misi Islam Ahalussunnah Waljamaah.

Kalau uang itu cair, rencananya akan dibagikan ke setiap orang mulai dari bayi sampai usia lanjut masing-masing sebesar Rp 400ribu selama 2001-2004. Pembagian uang itu dilakukan oleh sebuah panitia berdasarkan juklak dan juknis yang telah mereka susun. Yamisa sendiri memiliki 553 cabang di seluruh Indonesia.

Adapun, Ketua Yamisa Bandung Kiai Haji Abdul Rahman dijemput polisi dari Rumah Sakit Kepolisian RI Sartika Asih, Bandung, Jawa Barat, Kamis 26 September 2002 silam. Tim Satuan Reserse Kepolisian Wilayah Kota Besar Bandung sengaja membawa Abdul yang menolak ditahan dengan alasan masih sakit. Padahal, ia telah resmi menjadi tersangka, sejak 20 September.

Skema penawaran tersebut sangat mirip dengan lembaga yang mengatasnamakan Swissindo. Mereka mengklaim memiliki harta yang tidak akan ada habisnya sehingga siap membayarkan utang berapapun dan kapanpun.

Bahkan, lewat pengakuan koordinator di wilayah Sulsel La Ceni Kalean, mereka mempunyai alokasi uang sebanyak Rp2 miliar perkepala di beberapa negara termasuk seluruh WNI. Uang tersebut bisa dibayarkan dalam bentuk pelunasan utang, kalaupun tidak memiliki utang bisa ditransferkan melalui pembukaan rekening baru. (hry/rif)

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!