Berbekal Kartu BPJS Berobat di RS Mewah – Upeks.co.id
AKSI KORPORASI

Berbekal Kartu BPJS Berobat di RS Mewah

Azan subuh belum lagi dikumandangkan. Jam pun baru menunjukkan pukul 03.30 WITA dini hari.  Udara dingin tak menyurutkan niat Makmur (33) untuk bertahan di ruang antrian RS Awal Bros. Dia datang lebih awal demi mendapat nomor antrean pasien BPJS yang akan digunakan saat loket pelayanan sudah buka.

Laporan : Muhammad Akbar

suasana di depan loket pendaftaran bagi pasien peserta BPJS di RS Awal Bros.

suasana di depan loket pendaftaran bagi pasien peserta BPJS di RS Awal Bros.

Makmur adalah satu dari puluhan keluarga pasien yang berobat di RS Awal Bros. Mereka harus rela mengantre demi mendapatkan nomor antrean loket yang hanya terbatas bagi 200 orang saja setiap hari.

Dua baris kursi tunggu di depan loket pelayanan disiapkan untuk keluarga pasien. Di tambah lagi puluhan kursi empuk di depan klinik dokter. Tak jauh dari area itu. Tak ada yang berdiri.

Satu per satu pasien maju ke loket. Bergiliran sesuai panggilan nomor yang telah mereka kantongi.  Di loket petugas lalu memeriksa berkas yang dibutuhkan. Prosesnya tak lama. Jika berkasnya lengkap, langsung diarahkan ke dokter yang dituju.

“Meski antre, namun saya rasa sudah sepadan dengan pelayanan dan pengobatan yang diterima orang tua kami di rumah sakit ini. Saya rasa wajar untuk antre,” ujar Makmur.

Semenjak mulai melayani pasien BPJS sejak 2014 lalu, RS Awal Bros memang sering kali dibanjiri pasien. Setiap pagi, antrean sudah terlihat di lantai I rumah sakit swasta ini. Lantai I memang dipusatkan untuk pelayanan pasien BPJS.

Menurut Bagian Informasi RS Awal Bros, Muh Asis Tauhid, pihak rumah sakit yang memiliki basis di Singapura ini memang membatasi hanya 200 pasien per hari saja. Itu karena fasilitas terbatas. Ini tentunya membuat pasien-pasien yang ingin berobat di tempat ini harus rela antre.

“Kami memilih berobat di sini karena dokter spesialis syaraf tugas disini. Ada di RS Wahidin juga, tapi lokasinya jauh dari tempat kerja kami. Di sini kami bisa leluasa mengontrol kondisi orang tua,” ujarnya lagi.

Ayah Makmur, dirujuk ke RS Awal Bros untuk mendapatkan perawatan bedah khusus. Butuh dokter spesialis bedah syaraf untuk mengoperasinya.

“Alhamdulillah operasinya berjalan lancar. Meski demikian, kami juga diminta untuk rutin melakukan kontrol di rumah sakit,” ujarnya lagi.

Berobat di rumah sakit ini, Makmur dan keluarganya tak mengeluarkan biaya sedikit pun untuk perawatan ayahnya. Kartu BPJS kelas 1 yang dimilikinya mampu meng-cover seluruh biaya-biaya perawatan. Termasuk biaya bedah.

RS Awal Bros merupakan salah satu rumah sakit yang tergolong kelas mewah di Makassar. Itu karena dikenal dengan pelayanan dan tarifnya yang cukup wah. Meski demikian, rumah sakit ini tetap menerima pasien-pasien yang menggunakan kartu BPJS.

Kegembiraan yang sama juga dirasakan Fitriani (29). Selama hampir sepekan dia dirawat di rumah sakit ini. Dia pun baru saja menjalani operasi pengangkatan kista yang sudah diderita sekitar tiga tahun.

“Awalnya dulu saya ragu memeriksakan diri ke dokter. Takut biayanya mahal. Tapi ternyata setelah dapat masukan dari teman-teman, saya beranikan diri mendatangi klinik kesehatan yang ditunjuk BPJS. Dari situ saya lalu mendapatkan rujukan untuk berobat ke RS Awal Bros. Dokter memutuskan harus dilakukan bedah mengangkat kista. Saya pun pasrah, hanya berdoa kepada Allah SWT. Alhamdulillah  semuanya ditanggung BPJS. Tidak ada biaya-biaya tambahan lainnya,” katanya.

Pelayanan Setara

Hal yang sama juga dirasakan pasien-pasien BPJS di RS Siloam Makassar. Rumah sakit yang berada di pusat kawasan elit ini, sudah melayani pasien rujukan BPJS selama dua tahun. Pelayanan yang diterima pasien juga tak beda dengan pasien umum atau pun yang menggunakan asuransi swasta lainnya.

Nurhayati (35) merasakan betul manfaat menggunakan BPJS di RS Siloam. Ibunya, harus dirawat di rumah sakit ini. Dia dirujuk dari RSUD Bulukumba untuk melakukan bedah penggantian lensa kornea mata.

“Saya rasa pelayanan di sini sangat manusiawi. Selama ibu kami di ruang perawatan pasca operasi, bukan hanya perawat yang datang silih berganti. Dokter setiap hari datang memantau dan menyapa secara kekeluargaan,” ujarnya.

Bukan hanya itu, Nurhayati juga tak merasakan ada perbedaan pelayanan antara pasien umum dan pasien BPJS. Semuanya sama.

Hal itu dibenarkan Public Relation RS Siloam, Putri. Menurutnya, dalam menjalankan tugasnya, para perawat dan dokter, serta para staf rumah sakit lainnya tidak melakukan pelayanan yang berbeda antara pengguna kartu BPJS maupun dengan pasien umum lainnya.

“Semua dilayani dengan standar pelayanan yang sama. Tidak ada yang diistimewakan,” ujarnya singkat.

Sumber www.bpjs-kesehatan.go.id

Sumber www.bpjs-kesehatan.go.id

Berdasarkan data BPJS Kesehatan, secara nasional hingga tanggal 9 September 2016, jumlah peserta BPJS Kesehatan mencapai 168.807.302 orang yang terdiri dari Penerima Bantuan Iuran (PBI) APBN 91.174.295, PBI APBD 14.221.858, Pekerja Penerima Upah (PPU)- PNS 13.056.317, PPU-TNI 1.551.756, PPU-POLRI 1.211.526, PPU-BUMN 1.245.774, PPU-BUMD 152.843, PPU-Swasta 22.835.251, Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU)-Pekerja Mandiri 18.291.558,  dan bukan pekerja 5.066.094.

Sedangkan fasilitas kesehatan yang melayani peserta BPJS berjumlah 25.608 yang tersebar di seluruh nusantara. Provider itu antara lain Puskesmas 8.270, Puskesmas+TT 1.544, Dokter Praktek Perorangan 4.511, Dokter Gigi 1.164, Klinik Pratama 4.897, Klinik Utama 124, RS Kelas D Pratama 14, Rumas Sakit 1.843, Apotik 2.002, Laboratorium 286, dan Optik 953.

Sistem Satu Virtual Account

Sementara itu, terhitung 1 September 2016, peserta JKN-KIS kategori Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) dan Bukan Pekerja (BP) atau peserta mandiri mulai melakukan pembayaran dengan sistem Satu Virtual Account (VA) untuk keseluruhan anggota keluarga yang diberlakukan oleh BPJS Kesehatan.

Sistem tagihan iuran VA Keluarga adalah tagihan iuran yang bersifat kolektif untuk seluruh anggota keluarga atau menggabungkan masing-masing tagihan peserta sebagaimana yang terdaftar pada Kartu Keluarga (KK) dan atau yang sudah didaftarkan sebagai anggota keluarga.

“Pada dasarnya perubahan sistem pembayaran peserta JKN-KIS mandiri ini adalah untuk mempermudah masyarakat dalam proses pembayaran iuran dan memastikan bahwa iuran anggota keluarganya tidak ada yang terlewat dibayarkan, sehingga kepesertaan dan penjaminan kesehatan keluarga tercinta tetap dapat aktif dan terjamin oleh BPJS Kesehatan,” ujar Bayu Wahyudi, Direktur Hukum, Komunikasi dan Hubungan Antar Lembaga BPJS Kesehatan dalam siaran persnya belum lama ini.

Pembayaran iuran satu keluarga ini bebas administrasi di seluruh channel perbankan yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan (BRI, BNI, BTN, dan Mandiri) melalui ATM, Teller, Internet Banking, SMS/Mobile Banking. Khusus pembayaran melalui channel pembayaran swasta (Indomaret, Alfamart, Pegadaian, POS, JNE) dikenakan biaya administrasi sebesar Rp.2500,-/transaksi pembayaran.  (*)

Most Popular

To Top