Potret Ketenagakerjaan Jeneponto – Upeks.co.id
UTAMA

Potret Ketenagakerjaan Jeneponto

Madsutriman Achmad,S.Si. (Stat.Ahli BPS Kab Jeneponto)

Konsep kependudukan dan pembangunan tidak dapat dipisahkan seperti yang termuat pada International Conference on Population and development (ICPD dalam Widaryatmo, dkk. 2013) yang mendeklarasikan bahwa penduduk merupakan pusat dari pembangunan.

Dengan kata lain bahwa, penduduk merupakan subjek dari objek pembangunan. Pembangunan yang sesungguhnya merupakan pembangunan manusia seutuhnya. Sejak tahun 1990 United Nations Development Program (UNDP) menggunakan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) untuk mengukur semua itu. Dua dari tiga indikator IPM yakni Indeks Pendidikan dan Indeks Pengeluaran tidak terlepas dari bagaimana masyarakat melakukan aktivitas kerja.

Indeks Pendidikan
Dunia pendidikan berperan aktif dalam pertumbuhan perekonomian suatu negara. Pendidikan meningkatkan produktivitas dan kreativitas tenaga kerja serta meningkatkan kewirausahaan dan teknologi. Di dalam dunia kerja, pada umumnya pendidikan tinggi sangat dibutuhkan untuk menunjang kemajuan sebuah perusahaan. Namun, pendidikan tinggi juga tidak menjamin seseorang untuk mendapatakan pekerjaan yang diinginkannya, keahlian juga sangat dibutuhkan di dunia kerja, terutama bagi orang-orang yang berpendidikan rendah yang mencari pekerjaan. Sekolah sebagai tempat menimba ilmu, dituntut untuk menciptakan generasi-generasi yang lebih produktif untuk mengembangkan keahliannya.

Indeks pendidikan merupakan gabungan dari dua indikator pendidikan yaitu harapan lama sekolah dan rata-rata lama sekolah. Indeks pendidikan di kabupaten Jeneponto tahun 2015 adalah 51,31 naik 0,09 point dari tahun 2014 yang hanya 51,22. Walaupun angka ini menunjukkan perubahan yang positif, namun masih merupakan angka terendah di Sulawesi Selatan dan belum seperti yang kita harapkan bersama.

Hasil Sakernas (Survey Angkatan Kerja Nasional 2015) di kabupaten Jeneponto tercatat jumlah angkatan kerja mencapai 154.370 jiwa, dengan tenaga kerja sebanyak 148.198 jiwa. Jika dilihat dari kacamata pendidikan lulusan SLTP ke bawah masih mendominasi tingkat partisipasi kerja yakni 107.340 jiwa atau sekitar 72,43% dimana 95.756 jiwa (64,61%)berada di wilayah pedesaan dan 68.703 (46,36 %) adalah laki-laki.

Olehnya itu, untuk membantu peserta didik pendidikan umum (SLTP dan SLTA) yang tidak mampu menyelesaikan atau meneruskan studi dan bermaksud bekerja, kepada mereka itu selama proses pendidikan dapat diberikan bekal pengetahuan dan keterampilan pra-kejuruan. Bekal pengetahuan dan ketrampilan ini disesuaikan dengan peluang kerja nyata, yang terdapat di lingkungan dan tempat tinggal peserta didik. Program pembekalan ini dapat menggunakan kurikulum muatan lokal disamping itu perlunya proses pendampingan dari pihak terkait sangat diharapkan.

Indeks Pengeluaran
Indeks pengeluaran diperoleh dari komponen Purchasing Power Parity (PPP) atau dikenal sebagai komponen kemampuan daya beli atau standar hidup layak. Tingkat pengangguran tentunya memiliki pengaruh negatif secara individu terhadap daya beli masyarakat dalam artian bahwa bila seseorang menganggur akan memengaruhi pendapatannya, keadaan tidak bekerja atau bekerja dengan pendapatan kecil menyebabkan penghasilannya menurun, penghasilan yang menurun atau pendapatan yang rendah akan berpengaruh pada daya beli masyarakat. Data Sakernas mencatat 4% (6.172 jiwa) penduduk Jeneponto merupakan pengangguran.

Berdasarkan usia, tenaga kerja di kab Jeneponto berada pada range usia 45 tahun ke atas, dimana pada usia tersebut tidak ada pengangguran.Hal ini menunjukkan adanya kemapanan dalam bekerja atau berumah tangga di usia tersebut, namun cukup disayangkan dari 75.555 penduduk dengan usia 25-44 tahun 1,99% adalah pengangguran. Hal ini banyak tidaknya akan memengaruhi daya beli masyarakat.

Pada tahun 2015 daya beli penduduk kabupaten Jeneponto adalah 8.489.000 rupiah per tahun naik 0,86% dari tahun 2014 yang hanya 8.417.000 rupiah dengan indeks pengeluaran sebesar 65,13 yang juga naik 0,26 point dari tahun 2014 yakni 64,87. Kemampuan daya beli masyarakat Jeneponto pada penghitungan ini dinilai cukup bersaing dengan kabupaten lain.

Mobilitas Tenaga Kerja
Kondisi ekstrim yang terjadi 2015 pada sektor pertanian menyebabkan hampir sebagian besar masyarakat di sebagian besar kecamatan tidak melakukan proses produksi di sektor pertanian bahkan di kecamatan Turatea sebagai basis pertanian pun mengalami penurunan produksi. Hal ini juga terlihat jumlah tenaga kerja pertanian mengalami penurunan sebesar 24,3%, disatu sisi adanya peningkatan aktivitas penduduk di sektor usaha penjualan hingga mencapai 55,4% dimana 20.558 jiwa dari tenaga usaha perdagangan ini berada disektor pedesaan.

Hal ini memberikan informasi bahwa tenaga kerja di kabupaten Jeneponto mengalami mobilitas dari sektor pertanian ke sektor perdagangan, selain itu banyaknya kredit usaha rakyat (KUR) yang disalurkan pemerintah banyak tidaknya berdampak pada mobilitas tenaga kerja guna mengimbangi kondisi iklim yang kurang kondusif, namun hal ini tetap menjadi perhatian bagi pemerintah dalam memaksimalkan potensi daerah dengan berbagai program pemberdayaan. (***)

BERITA POPULER

To Top