Lulus PNS di Bulukumba, Dokter Cantik Asal Lamongan Ini Curhat ke Wartawan – Upeks.co.id
SULSEL MEMBANGUN

Lulus PNS di Bulukumba, Dokter Cantik Asal Lamongan Ini Curhat ke Wartawan

BULUKUMBA, UPEKS.co.id — Rasa bahagia terpancar di raut wajah ayu seorang dokter cantik asal Lamongan Jawa Timur yang bertugas di Puskesmas Batang, Kecamatan Bontotiro, Kabupaten Bulukumba. Dia adalah Dokter Gigi Evri Kusumah Ningtyas.

Drg Evri begitu nama sapaan akrabnya, dinyatakan lulus sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) dari seleksi penerimaan CPNS dari PTT Kementerian Kesehatan Lingkup Kabupaten Bulukumba, bersama 77 orang Putri terbaik Bulukumba.

Masing- masing 1 orang dokter umum, 4 orang dokter gigi dan 72 Bidan.

Hasil kelulusan itu, resmi diumumkan Bupati Bulukumba, Andi Sukri Sappewali disaksikan langsung Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Bulukumba di Rujab Bupati, Sabtu (25/2/17).

Ditemui Upeks, Minggu (26/2/17) Evri mengaku sudah lima tahun lebih mengabdi sebagai Pegawai Tidak Tetap (PTT) dokter gigi di Puskesmas Batang.

Cita-cita menjadi CPNS, sudah menjadi impiannya selama ini. Saat peluang itu datang Evri mencoba mengikuti seleksi Penerimaan CPNS dari Program PTT Kementerian Kesehatan di Makassar Juli 2016 lalu.

Saat itu itu Evri mengikuti seleksi dua tahap, administrasi dan tes uji kompetensi (TKP, TIU, TWK).

Setelah lama menunggu, hasilnya kelulusan pun terjawab, tepat Sabtu (25/2/17) Bupati Bulukumba Andi Sukri Sappewali mengumumkan hasil kelulusan itu melalui media online.

Evri lulus PNS, namanya pun terpampang jelas diurutan Pertama dari 4 orang nama dengan profesi dokter gigi.

Setelah dinyatakan lulus PNS, Evri mengaku bersabar dan rela menerima konsekwensi untuk tetap ditempatkan bertugas didaerah terpencil di Kabupaten Bulukumba.

Sesuai perjanjian atau pernyataan peserta yang mengikuti seleksi program penerimaan PNS dari Program PTT, ketika lulus PNS tidak bisa pindah ketempat lain, tetap bertugas ditempat biasa.

“Alhamdulillah, saya bersyukur lulus PNS. Mau tidak mau diterima Kak kami ditempatkan didaerah terpencil. Tapi harapannya agar dokter- dokter atau tenaga- tenaga medis yang ditempatkan didaerah terpencil itu lebih diperhatikan,” kata Evri.

Tidak hanya itu, yang perlu diperhatikan saat bertugas didaerah terpencil, ungkap Evri adalah sarana dan prasarana tempat mereka mengabdi agar di lengkapi agar bisa melayani masyarakat dengan maksimal.

“Kalau perlu, ada juga tunjangan daerah atau insentif bagi kami yang bertugas di daerah terpencil sebagai bentuk apresiasi Pemerintah Daerah,” ungkap Evri.

Evri juga menceritakan, suka dukanya menjadi petugas kesehatan didaerah terpencil.

Kalau sukanya, kata Evri, yang awalnya kendala bahasa karena lebih banyak pasien yang berbahasa daerah yang sama sekali tidak dimengerti dan butuh penerjemah setiap kali melayani tapi sekarang bisa memeperluas wawasan, jadi paham budaya- budaya dan bahasa setempat. Sisi lain, lebih menyatu dengan alam, karena dekat dengan suasana wisata pantai yang indah.

“Kalau dukanya, sarana dan prasarana kurang memadai, transportasi susah Kak, angkutan umum ada waktu atau jam tertentu, sering mati lampu, sinyal jelek untuk menelpon pun susah apalagi untuk online, jadi kita yang didaerah terpencil merasa kurang update informasi,” terang Evri. (sufri).

Click to comment
To Top