8 Jam Massa Demo Mapolres Bulukumba, Satu Polisi dan Jendlap Terluka – UPEKS
SULAWESI SELATAN

8 Jam Massa Demo Mapolres Bulukumba, Satu Polisi dan Jendlap Terluka

 

BULUKUMBA, UPEKS.co.id — Ratusan massa yang tergabung dalam HMI, IMM, PMII serta warga Tibona, Kecamatan Bulukumpa ‘mengepung’ Mapolres Bulukumba, Rabu (22/3/17) selama 8 jam.

Massa memblokade jalan jalur trans poros Bulukumba- Sinjai, mulai pukul 10.00 Wita hingga pukul 17.00 Wita dengan menggunakan truk ditengah jalan. Sehingga arus kendaraan macet total selama berjam- jam.

Namun beruntung petugas kepolisian setempat cepat menghalau puluhan kendaraan menuju jalan lain.

Kedatangan mereka medesak Kapolres Bulukumba untuk mengungkap kasus penganiayaan dan pembunuhan Syamsuddin (Alm), warga Tibona di dalam sel tahanan Mapolres Bulukumba.

Diketahui Syamsuddin meninggal dalam sel tahanan, Senin 20 Maret 2017 dinihari. Syamsuddin diduga dianiaya oleh oknum polisi di dalam sel tahanan.

Untuk itu pihak keluarga korban bersama aktivis HMI, PMII dan IMM sepakat melakukan aksi di Mapolres Bulukumba.

Pihak massa menilai ada yang tidak beres dan janggal terhadap kematian Syamsuddin di dalam sel tahanan Mapolres Bulukumba.

“Setelah jenasah Syamsuddin dibawa ke rumahnya, kita liat ada bekas luka tusuk dibeberapa tubuh korban, selain itu terdapat bekas pukulan benda tumpul ditubuh korban, bahkan patah tulang,” ungkap Fajar, Ketua HMI Bulukumba.

Fajar memastikan, kasus kematian Syamsuddin kuat dugaan dianiaya oknum polisi di Mapolres Bulukumba.

“Waktu dibawa ke Mapolres Bulukumba kondisi Syamsuddin sehat, setelah meninggal dunia di dalam sel lalu dibawa ke rumahnya terdapat luka ditubuh korban, kami curiga korban pasti dianiaya oknum polisi di dalam sel,” jelas Fajar.

Sementara itu, Kapolres Bulukumba, AKBP Kurniawan Affandi mengaku tak menampik atas kasus penganiyaaan yang diduga melibatkan anggotanya.

“Terkait adanya kasus penganiayaan di dalam sel tahanan sementara kita proses, saya tidak menampik, kalau terbukti anggota melakukan penganiayaan hingga mengakibatkan Syamsuddin meninggal kita akan berikan sanksi tegas,” terang Kurniawan Affandi.

Sebelumnya kasus kematian Syamsuddin di dalam sel tahanan terkait kasus dugaan tindakan asusila persetubuhan terhadap anak kandungnya penyandang disabilitas (bisu) bernama Nurfadillah hingga hamil lima bulan.

Namun setelah Syamsuddin meninggal dunia, seseorang bernama Irfan, warga Tibona yang tak lain adalah keluarganya sendiri datang ke Mapolres Bulukumba, Senin 20 Maret 2017 mengaku bahwa dialah (Irfan, –red) sebagai pelaku utama atas kasus persetubuhan anak Syamsuddin, Nurfadillah hingga hamil lima bulan.

Penegasan itu diungkapkan pihak Satreskrim Unit PPA Polres Bulukumba.

Pantau Upeks, awalnya aksi damai berlangsung tertib, namun beberapa jam kemudian massa yang memaksa akan masuk di Mapolres Bulukumba tiba-tiba pecah sehingga terjadi baku dorong antar petugas sehingga terjadi bentrokan.

Satu anggota polisi terluka di bagian kepala akibat terkena lemparan batu, lalu dilarikan kerumah sakit setempat.

Sedangkan beberapa orang massa dari HMI, yakni Ketua HMI Bulukumba Rakhmat Fajar dan Jenderal Lapangan Adi Tompel yang berhasil masuk di Mapolres Bulukumba dipukuli benda tumpul dan tendang hingga terluka oknum polisi.

Satu diantaranya Jenderal Lapangan Adi Tompel diamankan di dalam Mapolres Bulukumba tak lama kemudian dia dibebaskan dan bergabung kembali dengan massa yang berkumpul di depan Mapolres Bulukumba.

Jika tuntutannya tidak dipenuhi, pihak massa dalam waktu dekat akan kembali berunjukrasa dengan massa yang lebih banyak lagi. (sufri).

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!