SMART CITY

Iklim Global Ancam Pangan Sulsel

 
Dari Diskusi Masyarakat Perhutanan Reformasi Sulsel
MAKASSAR, UPEKS.co.id — Masyarakat Perhutanan Indonesia Reformasi (MPI-R) melaksanakan diskusi untuk mengurangi kerentanan Indonesia terhadap perubahan iklim global, terutama masalah adaptasi sektor kehutanan, pertanian, ketahanan pangan dan lingkungan hidup.

Ketua Harian MPI Reformasi, Prof Hatta Fatta menjadi moderator diskusi terbatas yang serius namun tetap berkesan santai pada Jumat (24/3) di Restoran Dragon Makassar.

Diskusi para “profesor” ini menghasilkan berbagai pemikiran tentang upaya-upaya yang dapat dilakukan oleh MPI Sulawesi Selatan untuk tetap berkonstribusi dalam mendorog pemerintah memahami persoalan perubahan iklim.

Menurut Hatta Fatta, diskusi ini merupakan bagian dari beberapa kegiatan MPI-Reformasi yang telah direncanakan secara konkret untuk berkolaborasi dan mendapat dukungan dari pemerintah daerah.

”Sebagai organisasi yang keberadaannya telah berpuluh tahun, kami dan kawan-kawan terpanggil untuk melakukan kerja-kerja profesional berkolaborasi dengan pemerintah daerah mengantisipasi perubahan iklim,” ungkap Kaemuddin, guru besar klimatologi, Unhas.

Untuk itu, Kaemuddin mengajak sejumlah guru besar dan pakar di bidangnya yang selama ini berada di balik MPI-Reformasi, antara lain Prof. Dr. Ir. Baharuddin Mappangaja, M.Sc, Prof. Dr Hatta Fatta, MS.i, Prof. Dr. Iswara Gautama, M.Si, MS., Hasnawir, S.Hut., M.Sc., Ph.D., H. Zainal Abidin HW, Drs. HM. Yunus Genda, MM., Dr. Ir. Abdullah., dan Ir Suwardi Thahir, MI.Kom.

Dalam diskusi itu terungkap bahwa diskursus atau wacana pemanasan global mulai muncul pada awal dekade 1990. Namun di abab 21 ini pemanasan global telah menjadi suatu ancaman. Temuan penting dari 5th Assessment Report, IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) Working Group 1 tahun 2013 adalah 1) Perubahan iklim tegas terjadi, 2) Pengaruh manusia terhadap iklim sangat signifikan, 3) Perubahan iklim akan terus terjadi di masa mendatang, 4) Pengurangan emisi secara signifikan dan terus menerus untuk memperkecil perubahan iklim.

Menurut Hasnawir, Di Indonesia, dampak negatif perubahan iklim terjadi pada berbagai sektor paling tidak 6 sektor yaitu: kesehatan (penyakit berbasis lingkungan mewabah misalnya DB dan malaria), pesisir dan pulau kecil (sebagian pesisir tenggelam dan pulau-pulau kecil tenggelam), spesies dan habitat (kepunahan spesies dan kerusakan habitat), sumber daya air (kualitas air turun dan kuantitas air berkurang), pertanian (luas areal pertanian berkurang, produktivitas lahan turun), kehutanan (perubahan tata guna hutan dan konversi hutan).

Di Indonesia, urai Hasnawir, Sulawesi Selatan, menunjukkan tingkat kerentanan yang tinggi terhadap dampak perubahan iklim. Hal ini dapat diketahui dari berbagai bencana alam seperti banjir, kekeringan, tanah longsor, gagal panen, intrusi air laut dan lain-lain.

Dampak perubahan iklim inilah yang menjadi salah satu poin penting sehingga pengurus Masyarakat Perhutanan Indonesia (MPI-Reformasi) Sulawesi Selatan menggelar diskusi terbatas. MPI Sulawesi Selatan dengan Ketua Umum Prof. Dr. Nurdin Abdullah, sepertinya terbangun dari tidur yang panjang selama kurang lebih 10 tahun karena ancaman nyata perubahan iklim sudah di depan mata.(*)

Most Popular

To Top