PERBANKAN FINANCE

Tekan Kredit Macet, Laba Bank Permata Capai Rp453 Miliar

MAKASSAR, UPEKS.co.id — PT Bank Permata Tbk atau PermataBank mencatatkankinerja operasional yang meningkat untuk tiga bulan pertama tahun ini. Setelah mampu menekan kredit macet, perseroan mampu membukukan laba bersih setelah pajak sebesar Rp453 miliar.

Direktur Utama PermataBank,Ridha DM Wirakusumah, mengatakan, peningkatan ini jauh lebih baik dibandingkan dengan kerugian sebesar Rp376 miliar pada periode yang sama di tahun 2016. Membaiknya kinerja PermataBank merupakan hasil dari langkah-langkah yang diambil sejak tahun lalu untuk menurunkan NPL, pendapatan dari bisnis utama yang tetap berjalan dengan baik serta penjualan sebagian porsi aset bermasalah sebagaimana yang telah direncanakan.

“Proses rights issue sebesar Rp3 triliun sedang berjalan dan diharapkan akan selesai pada semester pertama 2017. Jumlah ini jika dikombinasikan dengan rights issue Rp5,5 triliun di Juni 2016, akan meningkatkan cadangan modal Bank sebesar Rp8,5 triliun,” sebutnya, dalam rilis resminya kepada Upeks, Rabu (19/4/17).

PermataBank terus mengambil langkah-langkah proaktif yang diperlukan untuk mengelola kualitas asetnya melalui restrukturisasi dan rehabilitasi, mempercepat pemulihan kredit dan menjual sebagian dari portofolio NPL. Hal ini telah menghasilkan peningkatan pada kualitas aset, dimana rasio NPL Gross tercatat sebesar 6,4% per 31 Maret 2017, turun dari 8,8% pada Desember 2016. Sedangkan rasio NPL Net tetap di kisaran 2,2%.

Ridha menjelaskan, perseroan sejauh ini tengah fokus pada peningkatan pengelolaan risiko dan NPL sebagai upaya mengurangi risiko dan menata kembali portofolio kredit, mengakibatkan perlambatan pada pertumbuhan kredit dimana kredit menurun 22% secara tahunan menjadi Rp95,4 triliun dari Rp122,7 triliun di akhir Maret 2016. Di sisi lain, untuk menjaga likuiditas yang sehat, PermataBank telah meningkatkan saldo dana murah sebesar 13% sehingga rasio CASA meningkat menjadi 46% dibandingkan 38% tahun lalu.

“Penurunan kredit menjadi penyebab utama dari NIM yang lebih rendah yaitu sebesar 3,5%, dibandingkan dengan 3,9% pada akhir Maret 2016,” akunya.

Selain itu, pendapatan berbasis biaya (fee-based income) yang kuat mengkompensasi penurunan margin sehingga menghasilkan total pendapatan sebesar Rp2,4 triliun, tumbuh 11% yoy dibanding tahun sebelumnya. Pembiayaan syariah mencatat pertumbuhan positif 4% YOY di Maret 2017, dan PermataBank juga mencatat pertumbuhan CASA yang kuat sebesar 49% YOY.

Pencadangan kredit sebesar Rp670 miliar pada Q1-2017 tercatat 57% lebih rendah dibandingkan Rp1,5 triliun tahun lalu, sehingga menghasilkan laba sebelum pajak sebesar Rp596 miliar, jauh membaik dibandingkan dengan kerugian operasional sebesar Rp508 miliar di tahun lalu.

Rasio modal PermataBank atau total CAR per akhir Maret 2017 sebesar 17,0% meningkat dibandingkan dengan 15,1% pada akhir Maret 2016, dan jauh diatas persyaratan minimum regulator.

“Proses rights issue sebesar Rp3 triliun (yang mencakup Rp1,5 triliun setoran modal pada Desember 2016) saat ini sedang berjalan dan akan memperkuat rasio modal ketika selesai dilakukan pada bulan Juni 2017,” tuturnya.

Ridha mengaku optimis tren positif ini akan terus berlanjut dengan memperkuat fundamental dan memanfaatkan kekuatan inti termasuk jaringan cabang yang luas, saluran distribusi yang komprehensif, produk-produk inovatif serta peningkatan modal melalui rights issue.

“Kami yakin Bank akan kembali ke performa yang semakin kuat pada tahun 2017 sebagaimana kami terus membangun peran kami sebagai agen pembangunan bagi para nasabah kami,” pungkasnya. (hry/suk)

Most Popular

To Top