UTAMA

Pertanian Pilar Utama Perekonomian Sulsel

Daeng Alwi Bincang dengan Tokoh

Kita perlu berbuat yang maksimal agar ekonomi Sulsel kedepan bisa berkembang. Demikian sepatah kata yang dikemukakan Chairman Fajar Group, HM. Alwi Hamu saat menjadi moderator Daeng Alwi Bincang dengan Tokoh.

Laporan: Muhajir
———————
Makassar

Diskusi yang mengusung tema Menatap Masa Depan Ekonomi Sulsel, berlangsung di Vertikal Cafe, Karebosi Condotel, Makassar, Rabu (19/4/17) malam. Daeng Alwi Bincang dengan Tokoh ini menghadirkan pemateri handal di bidangnya, yakni Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, Kepala Perwakilan BI Sulsel, Wiwiek Sisto Widayat dan ketua Kadin Sulsel, Zulkarnain Arief.

Berkaitan dengan pengembangan ekonomi Sulsel, Gubernur Syahrul mengatakan, bahwa penataan ekonomi tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Sehingga, diperlukan keterlibatan seluruh pihak agar ekonomi Sulsel lebih maju dan berzonasi. Sebab, ekonomi yang berzonasi pasti menghadirkan moralitas serta masyarakat yang kuat dan peradaban yang baik.

Untuk menuju ekonomi yang lebih maju, lanjut Syahrul, perlu adanya pembenahan ruang pebisnis hingga kuat agar berakselerasi tanpa kecemasan. “Kalau perlu pebisnis dibungkus dengan nasionalisme yang kuat,” ujarnya.

Tapi yang lebih penting, menurut Syahrul, adalah memperkuat kembali kekuatan di sektor pertanian. Sebab, sektor pertanian masih dipercaya sebagai pilar utama perekonomian Sulsel. Di samping itu, perlu memperhatikan kekuatan ekonomi di sektor kelautan, dan pegunungan seperti coklat dan kopi.

“Sektor-sektor itulah yang perlu ditingkatkan lagi. Apalagi Sulsel adalah pusat konektivitas dari seluruh arah perdagangan. Maka Sulsel adalah pilarnya Indonesia. Tidak salah kalau ibu kota negara pindah di Sulsel. Tidak perlu di Kalimantan,” tegasnya.

Penataan ekonomi Sulsel kedepan menjadi lebih baik bukanlah tidak mungkin. Tahun 2016 saja, kata Wiwiek Sisto Widayat saat memaparkan materinya, pertumbuhan ekonomi Sulsel mencapai 7,41 persen. Hasil tersebut sudah berada pada angka yang cukup optimis.

“Angka itu berada di atas rata-rata nasional. Pendorongnya ada beberapa sektor. Seperti pertanian, perikanan dan kehutanan penyumbang terbesar. Tak dipungkiri juga penyumbang terbesar pada sektor perdagangan besar dan eceran,” ujar Kepala KPw BI Sulsel ini.

Jika Sulsel bisa memaksimalkan seluruh sektor, khususnya pertanian, maka bukan tidak mungkin ekonomi Sulsel bisa mencapai 7,8 persen sampai 8 persen. Yang perlu juga diperhatikan, kata Wiwiek adalah pengembangan sektor UMKM. Sebab, selama ini UMKM mampu menyumbang ekonomi Sulsel sampai 33 persen. “Hampir Rp35 triliun ada di UMKM. Tapi sayangnya, banyak bank yang memberi kredit untuk UMKM ke sektor konsumsi saja, bukan investasi. Maka perlu didorong kredit UMKM ke sektor produktif. Jika itu dilakukan, ekonomi Sulsel bisa tumbuh hingga 8 persen,” ujarnya.

Perkembangan UMKM saat ini bukanlah omong kosong belaka. Saat ini, kata Zulkarnain, bicara UMKM tidak lagi bicara perkembangannya sampai skala kabupaten lagi. UMKM Sulsel sudah merebut kawasan Timur bahkan sudah go internasional. Ketika, UMKM sudah berada di zona nyaman, maka perlu melirik sektor lain untuk dikembangkan. Seperti memperhatikan pertumbuhan Kakao dan coklat pada sektor pertanian yang mengalami penurunan karena ada keputusan Menteri Keuangan tentang penetapan harga ekspor untuk bea keluar.

“Peraturan Menteri Kelautan terkait larangan penangkapan lobster kepiting rajungan perlu didiskusikan. Karena akibat dari itu, rajungan kita ekspor. Saya takutnya rumput laut dulu no 3 suplaynya di Indonesia jadinya menurun,” ujarnya. (*)

Most Popular

To Top