Tumbuh Subur Rp343 M – Upeks.co.id
ANEKA

Tumbuh Subur Rp343 M

Kredit Sektor Pertanian

MAKASSAR, UPEKS.co.id — PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mencatat pada kuartal I/2017, penyaluran kredit ke sektor pertanian di Sulsel mencapai Rp Rp343,9 miliar. Realisasi tersebut tumbuh 25,31% dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp274,5 miliar.

Regional Transaction and Consumer Head Bank Mandiri Regional Sulawesi-Maluku, Putut Putranto mengatakan, pihaknya terus meningkatkan peran sebagai agen pembangunan melalui penguatan fungsi intermediasi. Hal itu direalisasikan melalui penyaluran kredit sebesar Rp20,5 triliun pada kuartal I /2017. Nilai tersebut meningkat 7,89% dari tahun sebelumnya, yang sebesar Rp19,0 triliun.

Di Sulsel sendiri, lanjut dia, telah disalurkan kredit sebesar Rp9,8 triliun atau meningkat sebesar 8,15% dari tahun sebelumnya sebesar Rp9,0 triliun.

Pembiayaan di Sulsel tersebut terutama disalurkan untuk sektor produktif yang mencapai 72,12% dari total portofolio atau sebesar Rp7,0 triliun, dimana Kredit Modal Kerja tumbuh 9,19%.

“Melalui penguatan fungsi intermediasi ini, Bank Mandiri ingin mempertegas peranan sebagai agen pembangunan yang ingin berkontribusi maksimal dalam merealisasikan program-program strategis pemerintah,” katanya dalam acara Focus Group Discussion (FGD) Strategi Pengembangan Komoditas Beras dan Kakao, di Hotel Grand Clarion Makassar, Rabu (17/5/17).

Lanjut dia, salah satu realisasi keinginan itu, ditunjukkan melalui konsistensi peningkatan pembiayaan ke sektor produktif utamanya Pertanian. Penyaluran kredit ke sektor pertanian di Sulsel tercatat tumbuh 25,31% menjadi Rp343,9 miliar dari sebelumnya sebesar Rp274,5 miliar.

Pertumbuhan penyaluran kredit tersebut sejalan dengan pertumbuhan ekonomi di Sulsel yang tumbuh di atas perekonomian nasional. Dimana perekonomian Sulsel didominasi oleh sektor pertanian dengan rata-rata kontribusi terhadap PDRB tahun 2013-2016 sebesar 23,1%.

“Yang seperti kita ketahui bersama sumbangan terbesar adalah dari tanaman pangan dan tanaman perkebunan dimana untuk Sulsel yang menonjol adalah Padi dan Kakao,” tuturnya.

FGD ini merupakan kegiatan yang diadakan Bank Mandiri dan Perhimpunan Jurnalis Indonesia (PJI) dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi di Sulsel, melalui sektor pertanian mengingat besarnya kontribusi sektor tersebut. Demikian pula dengan kontribusi dari sektor pertanian terutama komoditas padi dan kakao, dimana Bank Mandiri dapat mengambil peranan penting dalam pertumbuhan tersebut.

FGD melibatkan para pemangku kepentingan di sektor pertanian beras dan kakao, yakni Sekprov Pemprov Sulsel, Abdul Latief, Tim LP2M Unhas, Ketua Asosiasi Beras Indonesia Sulsel, Akifuddin, Sekretaris Ketua Asosiasi Kakao, perwakilan Bank Indonesia, dan perwakilan OJK.

Dalam diskusi terungkap terus menurunnya produksi kakao, sehingga mempengaruhi nilai ekspor dari USD400 juta pada 2009 menjadi USD150 juta pada 2016. Adapun penyebab menurunnya volume produksi biji kakao disebabkan hama/penyakit tanaman, umur tanaman yang sudah tua, hingga alih fungsi lahan sebanyak 30 ribu hektare.

Guna meningkatkan produksi, langkah yang bisa dilakukan adalah peremajaan dan intensifikasi. Peningkatkan produksi sangat diperlukan mengingat dari enam pabrik pengolahan biji kakao berkapasitas 165 ribu ton pertahun, hanya dua yang berproduksi. Itupun kapasitasnya hanya 40 ribu ton dari kapasitas terpasang 125 ribu ton.

Sementara itu, di komoditas beras, para pemangku kepentingan merasa perlunya Pasar Induk Beras dibangun di Makassar. Hal ini untuk menciptakan stabilitas harga beras di Sulawesi Selatan. Akibat ketiadaan pusat informasi harga dan Pasar Induk Beras, pergerakan harga beras di Sulawesi Selatan saat ini menjadi simetris mengikuti harga beras di Pasar Induk Cipinang.(hry/rif)

Click to comment
To Top