2 Tahun Jadi PTT di Daerah Terpencil Akhirnya Lulus CPNS di Bulukumba – Upeks.co.id
RAGAM

2 Tahun Jadi PTT di Daerah Terpencil Akhirnya Lulus CPNS di Bulukumba

BULUKUMBA, UPEKS.co.id — Andi Fadliah Abadi, dokter umum asal Puskesmas Batang, Kabupaten Bulukumba ini tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya setelah menerima SK CPNS Lingkup Kementerian Kesehatan diruang pola kantor Bupati Bulukumba, Selasa (6/6/17).

Pada moment tersebut, sebanyak 77 PTT terdiri dari 1 dokter umum, 4 dokter gigi dan 72 bidan telah resmi menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil Daerah (CPNSD) Kabupaten Bulukumba.

Penyerahan SK CPNSD tersebut diserahkan secara simbolis oleh Bupati Bulukumba Andi Sukri Sappewali kepada perwakilan dokter dan Bidan PTT yang lulus CPNS.

 

Dokter Andi Fadliah ditemui Wartawan Upeks usai menerima SK CPNS mengaku sangat bahagia setelah menerima SK tersebut.

“Saya mengabdi sekitar 2 tahun 7 bulan di daerah terpencil di Puskesmas Batang. Kenapa saya tertarik mendaftar di Bulukumba, karena di Bekasi gak buka pendaftaran,” kata dokter Adhli, demikian sapaan akrbanya.

Dokter Adhli juga mengemukakan alasannya, keanapa dia pilih Bulukumba untuk mendaftar CPNS.

“Jadi dulu tuh pas ada penerimaan dokter PTT ada banyak pilihan kabupaten, tapi karena di Bulukumba dibuka formasi untuk beberapa dokter, jadi saya pilih Bulukumba, karena ada Pantai Bira yang indah di Bulukumba. Alasan kedua, jadi kan Ayah saya itu asli Bulukumba banget, makanya saya pilih Bulukumba, ngabdi ke kampung halaman gitu,” ungkapnya.

Dokter Adli saat ini tinggal serumah neneknya di Desa Batang. Dia juga mengaku lebih suka kerja di daerah daripada di kota. Dikatakannya, melayani pasien didaerah terpencil dengan pengetahuan yang masih kurang itu lebih menantang daripada melayani pasien yang banyak tau, tapi cenderung sok tau.

“Karena saya juga udah pernah ngerasain jadi dokter di Bekasi, Jakarta, Sorowako, Sidrap, jadi bisa ngerasain bedanya respon pasien ke pelayan kesehatan,” ujarnya.

Terkadang dokter Adli juga mengaku sedikit mengalami hambatan saat menghadapi pasien yang menggunakan bahasa Konjo dan bahasa Bugis.

“Walaupun Ayah saya orang Bekasi- Bulukumba tapi saya sama sekali gak tau bahasa konjo. Kalau ada pasien pake bahas Konjo, ada translator dari perawat saya yang bisa artikan supaya saya ngerti,” katanya.

Kepada Wartawan, dokter Adli juga memberikan masukan kepada pemerintah daerah. Dia berharap dokter di Bulukumba kalau bisa jumlahnya di tambah, karena menjalani tugas dokter umum di faskes primer yang ada rawat inapnya sendirian itu berat, apalagi di era JKN seperti sekarang, profesionalisme kerja sangat diperhatikan. Malah masih ada faskes primer yang belum ada dokternya, dan itu pasti sangat mempengaruhi pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

“Kalo masalah kurangnya sarana dan prasarana di faskes primer yg jaraknya agak jauh dari kota ini sih sebenarnya penyakit kronik yang memang agak sulit buat diobati, tapi selama beberapa tahun saya bertugas di Puskemas Batang, progresnya sudah cukup lumayan,” ungkapnya.

Lebih jelas dokter Adhli menuturkan, faskes itu penting, pengetahuan tanpa penunjang sama saja nothing, begitu juga sebaliknya.

“Suka sedih sih, kalo kita tau terapi, tapi ternyata alat terapi atau obatnya ga ada, jadi sisa perkuat doa aja. Sukanya karena saya bisa banyak ketemu sama keluarga saya yang telah lama tak betemu,” ungkap dokter Adhli.

Senada diungkapkan dokter Ami, dokter Gigi asal Puskesmas Ganttareng, Kecamatan Gantarang ini juga tidak dapat menyembunyikan rasa gembiranya usai menerima SK CPNS.

Dikatakannya dunia kerja sebagai PTT dokter gigi di Puskesmas Gattaereng, selama dua tahun lebih adalah sebuah pengabdian perjalanan panjang.

Namun saat namanya tercatat dalam daftar kelulusan CPNS Lingkup Kementerian Kesehatan dia baru bisa legah.

“Saya bertugas mulai dari daerah sangat terpencil sampai terpencil. Selayar kategori sangat terpencil yg mesti nyebrang lagi sekitar 8-10 jam dnegan menggunakan kapal kayu. Kabupaten Gowa dan Bulukumba  juga merupakan kategori terpencil,” ungkap Ami.

Kepada Wartawan Upeks, dokter Ami menuturkan, PTT itu seru, selain memang dia suka tugas dipelosok desa, dan gaji yang cukup lumayan.

“Cuma yah mesti jauh dari keluarga, harus bisa mandiri. Alhamdulillah, saya tergolong anak yang mudah beradaptasi. Sebagai dokter gigi, semoga masyarakat bisa memanfaatkan fasilitas kesehatan di Puskesmas Gattareng dengan keberadaan kami dokter gigi,” kata dokter asal Parepare ini.

Dia juga mengungkapkan suka- dukanya jadi dokter di daerah terpencil, komunikasi dengan penduduk setempat kerap jadi masalah karena bahasa yang digunakan kurang dimengerti. Tapi itu mudah diatasi setelah sekian lama beradaptasi dengan warga.

“Kami juga keluhkan fasilitas di poli gigi yang sangat terbatas yang mana kalau ada tindakan yang tidak bisa dilakukan disitu, yah ujung-unjungnya rujuk ke rumah sakit,” terangnya.

Dokter Ami juga mengemukakan tantangannya jadi dokter didaerah terpencil, dia menjelaskan kesadaran dan pengetahuan tentang kesehatan gigi pasien didaerah terpencil sangat terbatas.

“Pasien mesti diberikan penjelasan, belum lagi pasien pakai cara maksa dokter buat dilakukan tindakan kalau giginya lagi sakit dan si pasien maunya dicabut aja giginya. Pokoknya segala macam bentuk karakter pasien didaerah terpencil itu seru. Yang namanya keselamatan dokter itu mesti diperhatikan juga loh,” ungkap dokter alumni Unhas ini. (penulis: sufri).

Click to comment
To Top