Volume Penjaminan Jamkrindo Tembus Rp360 M – UPEKS
KEUANGAN

Volume Penjaminan Jamkrindo Tembus Rp360 M

 

 

 

MAKASSAR, UPEKS — Perum Jamkrindo mencatat volume penjaminan surety bond di Sulawesi Selatan untuk kuartal ke-III/2017 sebesar Rp360 miliar. Secara nasional, angka itu masuk tiga besar volume penjaminan tertinggi.
Progres tersebut merupakan akumulasi dari tiga kantor Cabang Jamkrindo masing-masing Kantor Cabang Makassar, Parepare dan Palopo.

“Kalau di Sulsel, kontribusi tertinggi dari Kantor Cabang Makassar, sampai 50%. Sisanya Parepare dan Palopo,” kata Wisnu Wardhono Kabag Penjaminan Kanwil IX Makassar, saat disambangi Upeks, Senin (2/10/17).

Dia menjelaskan, realisasi surety bond di Sulsel cenderung mengalami kenaikan. Hingga Juli 2017, angkanya masih Rp300 miliar lalu naik Rp60 miliar dua bulan kemudian. Jika dibandingkan pada periode yang sama tahun lalu, terjadi kenaikan sebesar 9%. “Tahun lalu 330 miliar di posisi yang sama,” terangnya.

Menurutnya, realisasi tersebut didukung oleh siklus tahunan proyek infastuktur yang memasuki tahap pembangunan, lalu pemilik proyek mempercayakan Jamkrindo dan persaingan dengan kompetitor masih minim. “Kalau di daerah Jawa persaingan dengan kompetitor sudah banyak, makanya juga terjadi persaingan harga,” ujarnya.

Di tempat yang sama, Kepala Perum Jamkrindo Wilayah IX Makassar, Hamim Bugi Afianto menambahkan, secara keseluruhan di Wilayah Sulawesi, Maluku dan Papua volume penjaminan surety bond tercatat sebesar Rp1,8 triliun di posisi September 2017 atau tumbuh 33% secara tahunan. “Hingga Juli realisasi surety bond diharapkan menutupi target 65 persen, tapi realisasinya sudah 75 persen,” ujar Hamim.

Hamim bilang, performa surety bond ini akan mengikuti realisasi proyek di masing-masing daerah. Polanya, pada triwulan II masih memasuki masa penawaran, dan pertengahan tahun pengajuan surety bond akan semakin bertambah hingga akhir tahun sejalan dengan pembangunan proyek.

“Jenis surety bond yang ditawarkan adalah penjaminan uang muka. Kalau di akhir tahun itu penjakinan pemeliharaan tapi tidak terlalu banyak,” jelasnya.

Jenis proyeknya, tambah Hamim yakni didominasi oleh proyek yang sumber anggarannya berasal dari APBD, sedangkan yang bersumber dari APBN cenderung pemilik proyek memilih kontra bank garansi. “Proyek yang sumber anggarannya dari APBN ada, tapi porsinya tidakk banyak hanya sampai 5%,” pungkasnya. (hry/mah)

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!