LTV Spasial Pacu KPR di Daerah – Upeks.co.id
KEUANGAN

LTV Spasial Pacu KPR di Daerah

 

 

MAKASSAR, UPEKS– Rencana penerapan aturan baru rasio kredit terhadap nilai agunan (Loan to value) secara spasial atau berbeda setiap daerah, diyakini akan memacu kredit pemilikan rumah di daerah.

Pengamat Ekonomi Universitas Hasanuddin ( Unhas) Anas Anwar Makkatutu mengatakan, langkah kebijakan LTV yang dikaji berbeda di setiap daerah sudah merupakan kebutuhan daerah. Sehingga, seharusnya sudah diterapkan sejak dulu. “Saya setuju (LTV Spasial), dari dulu saya sarankan sebab tidak semua kebijakan itu harus seragam,” katanya kepada Upeks, Kamis (5/10/17).

Menurutnya, setiap regional sangat berbeda. Mulai dari geografi, budaya, agama, sampai ke indikator-indkator makro ekonominya. Termasuk tingkat inflasi, daya beli, UMR dan UMP hingga APBD.”Semuanya beda kok. Kenapa kebijakan harus sama?,” imbuhnya.

Sehingga, menurutnya kebijakan LTV spasial dinilai sudah sangat sesuai, hanya saja dibutuhkan mencari formula yang tetap merujuk dari berbagai indikator masing-masing daerah.

Anas bilang, jika angka DP rumah sudah dihitung dan diputuskan dengan baik perdaerah, berarti angka LTV adalah angka real dan rasional. Dan dari situ bisa dihitung pula kemampuan daya beli masyarakat perdaerah.”Harus hati-hati juga. Ingat, tujuan akhir kan supaya pembiayaan ke sektor perumahan tidak macet. KPR bisa dipacu,” ujarnya.

Tantangannya, tambah Anas, dari sisi pandangan pengembang banyak yang menganggap aturan ini dapat mengurangi jumlah penjualan rumah yang mau dijual . Sementara, BI tetap harus menjaga supaya kredit di sektor ini tidak macet.”Jadi BI harus ketat juga,” sebutnya.

Terpisah, Kepala Divisi Advisory Ekonomi dan Keuangan Kantor Perwakilan Wilayah (KPw) BI Sulsel, Musni Hardi Kasuma Atmaja menuturkan, relaksasi LTV tersebut masih dalam proses kajian di kantor pusat. “Saya belum bisa bicara banyak soal itu. Kita tunggu saja aturannya,” katanya.

Tapi jika itu terkait pelonggaran, kata Musni, artinya ditujukan untuk mendorong laju pembiayaan di daerah. Di Agustus 2017, kondisi pembiayaan konsumsi di Sulsel masih tumbuh positif diangka 9,6% (yoy). “Tumbuhnya masih tinggi,” pungkasnya. (hry/mah)

BERITA POPULER

To Top