Pelindo Dituding Monopoli Jasa Kepelabuhanan – UPEKS
ANEKA

Pelindo Dituding Monopoli Jasa Kepelabuhanan

*Matikan Bisnis PBM Lokal

MAKASSAR,UPEKS– PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) IV Makassar dituding melakukan monopoli terhadap jasa kepelabuhanan. Pasalnya, kapal yang sandar di dermaga Hatta diwajibkan menggunakan peralatan bongkar muat milik Pelindo IV Makassar.

Kebijakan Pelindo IV Makassar tersebut dinilai bakal mematikan perusahaan lokal pengguna jasa kepelabuhanan.
Ketua DPW Asosiasi Perusahaan Bongkar Muat Indonesia (APBMI) Sulselbar, Ruslin Monoarfa mengatakan, Pelindo bisa mendukung aktivitas bongkar muat di pelabuhan melalui dua unit HMC-nya. Tapi, kalau dipaksakan menggunakan alat tersebut maka otomatis PBM Pelindo yang digunakan, bisnis PBM swasta lokal pasti akan mati.

“Dampak seriusnya, akan ada PHK karyawan,” katanya.

Ruslin bilang, pelabuhan tersebut adalah pelabuhan umum sehingga bisa dipakai oleh siapa saja. Jika diberikan alternatif ke dermaga Soekarno pun percuma. Ia menilai, draft kapal tidak akan terpenuhi. Rerata draft kapal melebihi 10 meter, di dermaga Soekarno hanya 9,7 meter.

Sementara itu, Sekretaris DPC Asosiasi Pengusaha Kapal (INSA) Makassar, Jered Sassiang menilai, jika keinginan Pelindo tersebut dipaksakan maka dampaknya sangat sistemik. Kapal di dermaga Soekarno bisa antre panjang, padahal kapasitasnya hanya maksimal 5 unit kapal.

“Kalau di dermaga Hatta bisa sampai 10 kapal. Kalau di paksa, kapal bisa menumpuk di Soekarno, antrean panjang. Akibatnya, suplai kebutuhan masyarakat pasti terhambat. Kapal ekspor dan impor akan antre. Akan pengruhi juga kapal lokal yang bongkar muat seperti semen dan komoditas yang dikirim ke daerah,” tandasnya.

Ketua DPC INSA Makassar, Frans Tangke menambahkan, pihaknya sangat menyayangkan keputusan tersebut. Apalagi, tidak didahului oleh sosialisasi kepada pihak yang akan menerima dampaknya.

“Regulasi ini dadakan. Kami tidak dapat info sebelumnya. Ini sangat memberatkan,” ujarnya.

Disayangkan pula, lanjutnya, karena surat edaran dikeluarkan oleh Otoritas Pelabuhan (OP) padahal tidak seharusnya dikeluarkan oleh wakil pemerintah.

“Kalau secara bisnis Pelindo yang harusnya keluarkan itu. Kalau OP sendiri, dimana kita mau mengadu,” keluhnya.

Dalam hitungannya, alat Pelindo dinilai juga tidak mempercepat proses bongkar muat barang. Estimasinya, hampir sama dengan kapasitas dari alat PBM swasta lokal sekitar 200 ton sampai 300 ton per shift.

“Kalau 400 ton mungkin bisa membantu. Tapi, kalau hampir sama kapasitasnya itu artinya ini upaya monopoli,” pungkasnya, di Warung Up Normal, Jl Landak Baru Makassar, Rabu (4/10/17).

Terpisah, GM Pelindo IV Cabang Makassar, Aris Tunru yang dikonfirmasi, mengaku pihaknya sudah menyiapkan alat Harbour Mobile Crane (HMC) untuk bongkar muat di Terminal Curah Kering (Dermaga 150), dan sesuai dengan edaran OP maka kapal yang sandar wajib menggunakan alat Pelindo.

“Tetapi kami juga memiliki alternatif bagi pengguna jasa untuk menggunakan dermaga Soekarno jika tidak ingin menggunakan HMC di Terminal Curah,” katanya saat dikonfirmasi, Rabu (4/10/17).

Di dermaga Soekarno, kata Aris, seluruh kapal dimungkinkan menggunakan crane sendiri maupun crane milik PBM swasta untuk melakukan bongkar muat. Dengan demikian, lanjut Aris, Pelindo IV sama sekali tidak melakukan monopoli.

“Karena kami hanya menawarkan, dan membesarkan pengguna jasa memilih apakah menggunakan HMC atau di dermaga Hatta. Sehingga tidak relevan jika disebut melakukan monopoli. Kami siapkan alternatif serta menggunakan mekanisme pasar,” ujarnya.

Terkait sosialisasi, dia mengaku, surat edaran yang diterbitkan Otoritas Pelabuhan Utama Makassar No. 06/SE/01/IX/OP.Mks.17 Tentang Optimalisasi Pemanfaatan Fasilitas Terminal Curah Kering Pelabuhan Makassar, telah melalui sejumlah tahapan disertai dengan sosialiasi kepada stakeholder.

“Kami bersama OP melakukan sosialisasi, jika ternyata sosialisasi dilakukan kurang dari satu tahun maka posisi kami yang salah,” ujarnya.

Adapun surat edaran tersebut memuat bahwa dalam rangka mengoptimalkan pemanfaatan fasilitas terminal curah kering (150 meter dermaga hatta) untuk mencapai standar kinerja yang telah ditetapkan maka terhitung mulai tanggal 1 Oktober 2017 setiap kapal yang sandar di Terminal Curah Kering untuk melakukan kegiatan bongkar murah curah diwajibkan menggunakan peralatan bongkar muat HBC milik PT Pelindo IV Makassar.(hry/rif)

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!