Proyek MNP Dikebut – UPEKS
ANEKA

Proyek MNP Dikebut

MAKASSAR,UPEKS– Pengerjaan proyek pembangunan Makassar New Port (MNP) sulit capai target. Pasalnya, proyek tersebut terkendala pengangkutan material. Dimana, jam kerja operasional kendaaraan pengangkut material Sirtu (pasir batu) terbatas oleh aturan yang berlaku antara Kabupaten Gowa dan Kota Makassar.

Akibatnya, aktivitas penimbunan Petak/Paket B yang sebagian besar materialnya berasal dari Kabupaten Gowa sulit capai target. Sebab, jumlah material timbunan yang masuk per harinya tidak bisa dimaksimalkan. Padahal penyelesaian penimpunan Petak B ditarget rampung sebelum akhir tahun ini.

Untuk mengatasi kendala itu, pelaksana pembangunan MNP sejauh ini telah mengajukan izin lintas, untuk bisa menambah jam operasional pengangkutan material timbunan dari Kabupaten Gowa menuju lokasi proyek MNP.

“Pelaksana proyek sudah mengajukan izin melintas untuk tambahan jam operasional truk pengangkut material. Kalau selama ini kan operasionalnya hanya malam hari, sekarang mereka minta jam operasional truk pengangkut itu ditambah. Itu untuk percepatan penyelesaian pembangunan MNP,” kata Fahlevi, Kepala UPTD Transportasi Mamminasata Dishub Sulsel, kemarin.

Berdasarkan usulan pelaksana pembangunan MNP tersebut, Dishub Sulsel telah menggelar pertemuan dengan semua pihak terkait, di Paotere pada Kamis (28/9/17) lalu. Dalam pertemuan itu disepakati, untuk menentukan jalur dan jam masuk truk pengangkut agar tidak berbenturan jam macet dalam kota dan potensi kecelakaan lainnya.

Rapat tersebut dihadiri pelaksana pembangunan MNP, Dishub Provinsi, Dishub Makassar, Dishub Kabupaten Gowa, dan Satlantas Gowa. Sedangkan Satlantas Polrestabes Makassar dan Dirlantas Polda Sulsel, berhalangan hadir.

“Itu merupakan rapat keempat untuk membahas percepatan pembangunan MNP. Kesepakatan yang dicapai, melakukan survei pada titik mana yang menjadi potensi kemacetan apabila angkutan ini masuk di siang hari,” urainya.

Dari Dishub Kota Makassar dan pihak Kepolisian sendiri, menurut Fahlevi, dalam pertemuan tersebut meminta, jika nantinya izin lintas tersebut disetujui, maka kendaraan pengangkut yang digunakan kapasitas muatannya tidak boleh melebihi 8 ton.

“Saran dari Dishub Kota Makassar, yang penting kendarannya tidak melebih 8 ton. Kami juga sudah sampaikan kepada pihak pelaksana pembangunan MNP, agar mengusahakan kendaraan pengangut tidak membuat material yang dibawa berceceran di jalan. Selain itu, kondisi kendaraan, supir, tonase, jalur yang dilalui juga terlebih dahulu disurvei layak atau tidak. Setelah survei, kita nanti juga akan lakukan uji coba dulu,” katanya.

Fahlevi meyakini, semua pihak terkait tentunya akan berusaha membantu upaya percepatan pembangunan MNP. Apalagi MNP merupakan salah satu proyek strategis nasional.

“Kalau ini izin lintas ini bisa secepatnya diselesaikan, pelaksana pembangunan yakin bisa selesai sebelum awal 2018. Penimbunan Petak B bisa rampung. Tapi kalau izin ini tidak bisa difasilitasi, mereka prediksi itu akan jauh dari target, dan baru bisa rampung sekitar bulan Februari 2018,” katanya.

Diketahui, per awal September 2017 lalu, progress pembangunan MNP telah mencapai 36,45%. PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero) pun optimis, akhir 2018 pembangunan mega proyek ini akan rampung, dan bisa difungsikan pada 2019.

Kepala Satuan Pengelola Proyek MNP, Arwin sebelumnya menjelaskan, untuk pembangunan MNP tahap I paket B, kegiatan yang tengah dikerjakan adalah beton penahan tanah, reklamasi atau penggantian tanah lunak (soil replace) dan produksi armour.

Sementara pada paket C, kegiatan yang sedang berlangsung adalah produksi armour, pengiriman material dan pemasangan core breakwater.

“Secara keseluruhan, pembangunan MNP tahap I ini menelan total investasi sebesar Rp1,8 triliun,” kata Arwin, belum lama ini.

Khusus paket B sendiri, pekerjaannya meliputi reklamasi seluas kurang lebih 13 hektare, causeway kurang lebih 1.276 meter, lapangan peti kemas sekitar kurang lebih 16 hektare, dan pengerukan kolam pelabuhan minimal draft -16,0 mLWS. Sedangkan kegiatan untuk Paket C, yakni berupa pembangunan breakwater sepanjang 1.310 meter.

“Diproyeksi, pengerjaan untuk paket A menyerap anggaran sebesar Rp326 miliar, paket B Rp1,06 triliun dan untuk paket C mencapai Rp228 miliar,” terangnya.(eky/rif)

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!