Bareskrim Taksir Kerugian akibat Sofware Palsu Capai Triliunan Rupiah – Upeks.co.id
EKONOMI BISNIS

Bareskrim Taksir Kerugian akibat Sofware Palsu Capai Triliunan Rupiah

JAKARTA, UPEKS.co.id — Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri, Brigjen Pol Agung Setya menyebut kerugian akibat penggunaan sofware ilegal mencapai triliunan rupiah.

“Semua yang menggunakan software palsu pasti rugi. Misalnya harga software palsu Rp 500 ribu, yang asli Rp 1,5 juta. Memang murah yang palsu tetapi banyak hal tidak bisa sinkron dengan aplikasi yang kita perlu dan menjadi tidak optimal saat digunakan,” kata Agung Setya dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (10/10).

Bukan itu saja, kerugian lainnya adalah data dalam perangkat dicuri, seperti kasus yang sedang ditangani Bareskrim saat ini. “Ketika malware masuk ke sistem, lalu membekukan sistem, kemudian dibuat backdoor, bisa semaunya. Kemudian meminta tebusan. Kita rugi dobel-dobel. Kalau kita hitung secara total bisa triliunan,” jelas Agung.

Untuk itu, lanjutnya, Mabes Polri bersama MIAP dan kementerian terkait, akan fokus dalam menangani kasus software ilegal ini. “Dengan kekuatan legal yang kita punya, kita akan terus mencari, temukan, dan kita pukul keras kejahatan cyber ini” tegasnya.

Tetapi masyarakat juga harus paham dengan tidak menggunakan sofware palsu. Selain itu juga melaporkan jika dirugikan. “Kami bergerak setelah ada aduan, kemudian diberi kesempatan mediasi untuk berdamai. Nah dalam hal ini salah satu poinnya adalah tarik semua produk palsu. Dari situ kita tau jaringan bisnisnya,” katanya.

Agung menambahkan, sejak 2015 hinga kini pihaknya menerima 9 kasus sofware ilegal. Dan tujuh laporan diselesaikan melalui mediasi.

Studi malware terbaru berjudul “Cybersecurity Risks from Non-Genuine Software” dari Fakultas Teknik National University of Singapore (NUS) mencatat 92 persen perangkat komputer dan laptop yang menggunakan software palsu terinfeksi malware.

Mencermati temuan tersebut, Ketua MIAP Justisiari P. Kusumah mengatakan, risiko besar bagi Indonesia yang notabene pengguna internet terbesar ke 4 di dunia, adalah serangan terhadap data nasabah, seperti yang saat ini tengah ditangani pihak Bareskrim Polri.

“Itu baru jual beli data nasabah, bagaimana kalau pelaksanaan transaksi juga bisa di-hack melalui infeksi malware? Ini bisa mengancam jaringan industri keuangan,” papar Justisiari.

Dia menyebutkan, dari studi yang sama kerugian dan bahaya, baik di tingkat konsumen atau pada bisnis dan kantor pemerintah sangat besar dan fatal, terbukti dengan berbagai penelitian kasus pelanggaran data secara global.

“Studi juga menunjukkan bahwa biaya untuk berinvestasi pada program perangkat lunak asli dan terbaru jauh lebih rendah dibandingkan dengan kerugian aktual yang dialami karena pencurian data rahasia dan informasi pribadi,” pungkasnya. (nas/JPC)

BERITA POPULER

To Top