Gotong Royong Perkuat Persatuan, Tangkal Radikalisme dan Terorisme – UPEKS
UTAMA

Gotong Royong Perkuat Persatuan, Tangkal Radikalisme dan Terorisme

KERJA BAKTI. Suasana warga bergotong royong melakukan kerja bakti membersihkan lingkungan di Kelurahan Maradekaya Selatan, Kota Makassar. (Foto: Slamet Riady/Upeks)

MAKASSAR, UPEKS.co.id–Negara hebat adalah yang mampu menjaga perdamaian. Selain ilmu pengetahuan dan teknologi, kedamaian merupakan modal utama kemajuan bangsa. Terang saja, jika segenap bangsa ini selalu berharap Indonesia Damai.

Tetapi, belakangan ini kejahatan atau kekerasan adalah suatu fenomena yang sering kita dengar dan lihat, baik di media massa maupun realitas yang ada di sekitar lingkungan masyarakat. Bahkan, hangat dibicarakan beberapa tahun terakhir oleh khalayak dan media massa yaitu radikalisme dan terorisme.

Paham radikalisme dan terorisme merupakan ancaman nyata terhadap kehidupan dunia global. Dampak dari gerakan radikal dan teroris dapat berimplikasi terhadap dinamika ekonomi dan politik yang bisa mengalami guncangan tidak kecil, sehingga getarannya mampu menciptakan rasa tidak aman pada masyarakat luas.

Menangkal radikalisme dan terorisme agar tak menyusup ke masyarakat Indonesia, maka harus menggalakkan gotong royong dengan mengaktifkan kerja bakti, baik di perkotaan hingga ke pedesaan.

Kerja bakti adalah salah satu perwujudan gotong royong yang mengandung nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom) yang harus dijaga dan dilestarikan. Gotong royong merupakan budaya yang telah berakar kuat dalam berbagai sendi kehidupan bermasyarakat.

Di Kota Makassar, bergotong royang dalam kerja bakti sudah menjadi tradisi. Melalui program Makassar Bersih atau dikenal Makassar Tidak Rantasa (MTR) yang dicanangkan Walikota Makassar, Ramdhan Pomanto, kerja bakti terus digairahkan di lingkungan masyarakat, sekolah, perusahaan, instansi pemerintah/ swasta. Kerja bakti dilaksanakan setiap Sabtu-Minggu atau hari libur dengan melibatkan stakeholder.

“Kerja bakti digalakkan di kecamatan, kelurahan hingga RT/RW. Pelibatan masyarakat dalam kerja bakti dapat memupuk kebersamaan,” kata Walikota Makassar.

Selain program MTR, Lorong Garden juga program adalan Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar untuk menyatuhkan warga bergotong royong membuat lingkungan lebih asri. Camat, Lurah, Ketua RT/RW, tokoh masyarakat, pemuda dan ibu-ibu rumah tangga berbaur menata lorong menjadi cantik, indah dan bersih dengan aneka bunga dan tanaman pangan.

Camat Biringkanaya, Kota Makassar, Mahyuddin, mengakui kerja bakti dapat meningkat partisipasi masyarakat untuk peduli terhadap kebersihan dan keamanan lingkungan.

“Kerja bakti membuat lingkungan bersih, mempererat silaturahmi, dan keamanan semakin kondusif,” kata Mahyuddin kepada Upeks, Jumat (7/9/2018).

Saat bekerja bakti, warga melepas atribut dari kedudukan/ posisinya di kantor, bahkan jabatan lainnya. Serta tidak terpikir dari suku, agama, golongan mana yang penting hadir, ngumpul, cerita sambil tertawa dan bekerja.

Guru Besar Sosiologi Kependudukan Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof Dr M Tahir Kasnawi, membenarkan gotong royong adalah sarana mempererat silaturahmi di antara warga.

“Gotong royong dapat menyingkirkan egoisme dan berpikir untuk kemajuan bersama,” ujarnya.

Prinsip gotong royong merupakan salah satu karakteristik dari bangsa Indonesia dapat dinyatakan pada pancasila yaitu sila ke-3 ”Persatuan Indonesia”. Budaya gotong royong akan memupuk rasa kebersamaan, meningkatkan solidaritas sosial, mempererat tali persaudaraan, menciptakan kerukunan, toleransi yang tinggi serta rasa persatuan dalam masyarakat Indonesia.

Hadirkan Solidaritas

Di era yang serba cepat, instan dan canggih ini, diharapkan gotong royong mampu bertahan, tetap terpatri kuat, menancap dan mengakar pada jiwa masyarakat, terutama generasi muda penerus bangsa.

Prof Dr M Tahir Kasnawi juga Pakar Pemerintahan Unhas, menuturkan gotong royong sebagai solidaritas sosial yang terjadi dalam kehidupan masyarakat dan telah menjadi suatu nilai kearifan lokal (local genius) bangsa Indonesia.

“Gotong royong  dapat menghadirkan semangat solidaritas dalam masyarakat,” tandasnya.

Tingkatkan Kewaspadaan Sosial

Di era globalisasi dengan gaya hidup masyarakat modern yang kurang bersosialisasi, membuat paham-paham radikalisme sangat rawan menyusup ke masyarakat.

“Kewaspadaan sosial harus ditingkatkan,” tegas Prof  Tahir Kasnawi.

Prof Tahir juga mengingatkan, masyarakat agar cerdas dalam berkumpul atau mengikuti pertemuan yang sifatnya tertutup. Apalagi yang membahas soal paham ekstrem.

Kewaspadaan harus ditingkatkan, mulai dari tingkat kecamatan, desa/lurah hingga RT/RW untuk terus memantau warganya. Terutama mewaspadai jika ada warga jarang bersosialisasi, rumah selalu tertutup, susah berkomunikasi dengan tetangga, dan mengikuti kegiatan sosial di masyarakat.

“Warga malas bersosialisasi dan selalu menutup diri, wajib dicurigai dan diwaspadai. Jika ada, RT/RW harus laporkan,” kata Camat Biringkanaya, Mahyuddin.

Selain di lingkungan masyarakat, kampus juga menjadi sasaran empuk penyebaran paham radikal. Kelompok mahasiswa yang kritis dalam berpikir, jika tidak cukup matang dalam mengelola kejiwaan akan mudah terpengaruh untuk menjadi radikal. Cirinya suka menyendiri, membuat kelompok eksklusif yang tidak boleh dimasuki orang lain.

Mewaspadai hal itu, sejumlah kampus di Kota Makassar dan kota lainnya di Indonesia kerja sama Polri/TNI dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) gencar sosialisasi mengingatkan mahasiswa akan bahaya radikalisme dan terorisme.

Terutama bagi mahasiswa baru (Maba) yang masih labil, selalu ingin mencari jati diri, bila tidak dibentengi semangat nasionalisme, maka sangat rentan tersusupi.

Menyikapi hal itu, Kepala BNPT, Komjen Pol Suhardi Alius meminta perguruan tinggi memberikan program khusus penguatan nasionalisme dan kebangsaan. Serta tangkal radikalisme dan terorisme di masa orientasi sebagai bentuk upaya kewaspadaan dini.

“Maba adalah orang cerdas, tetapi jiwanya masih labil, rasa ingin tahu tinggi sehingga sangat rentan jadi sasaran brain washing,” kata Suhardi saat memberikan pembekalan kepada Maba di Universitas Andalas dan Universitas Negeri Padang, Agustus 2018.

Antisipasi ‘Serangan’ Via Internet dan Medsos

Era revolusi industri 4.0 dengan kemajuan teknologi informasi dan telekomunikasi (TIK) tak bisa dihindari. Berbagai informasi mengalir dan menyebar sangat cepat, nyaris tanpa tersaring seiring meluasnya akses internet di masyarakat.

Penggunaan internet yang sedemikian pesat memiliki dua sisi mata pisau. Di satu sisi, pengguna bisa memetik manfaat dari informasi tersebut. Namun, di lain sisi, informasi yang merusak berseliweran, berita bohong (hoaks), kekerasan dan penyebaran paham radikal.

Memaparkan hasil survei kerja sama dengan Teknopreneur, Sekjen Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), Henry K Soemartono, menyebutkan penetrasi pengguna internet di Indonesia meningkat menjadi 143,26 juta jiwa atau setara 54,7 persen dari total populasi penduduk Indonesia.

Pengguna internet di Indonesia berada pada urutan keenam dunia. Mulai dari orang dewasa, remaja hingga anak-anak rerata menggunakan smartphone yang didukung aplikasi super canggih, sehingga dengan mudah mengakses internet dan media sosial (Medsos).

Kepala BNPT, Komjen Pol Suhardi Alius di Jakarta, mengungkapkan, kehadiran teknologi informasi, mengakibatkan muncul pola baru belajar di dunia maya yang tidak terstruktur. Informasi apapun begitu mudah didapatkan lewat internet. Jika tak dibendung, maka jadi serangan yang luar biasa bagi para pengguna internet, khususnya generasi muda menjadi target cuci pemikiran.

“Pola baru terorisme zaman sekarang pun menggunakan Medsos, social messenger bahkan ada rekrutmen terbuka dan bai’at online,” kata Kepala BNPT.

Hasil studi Pengamat Teroris dari Universitas Indonesia, Solahuddin terhadap narapidana terorisme, terungkap Medsos membuat proses seseorang dari mengenal hal-hal radikal hingga melakukan aksi teror menjadi lebih cepat. Jika sebelum ada Medsos, proses itu bisa memakan waktu 5-10 tahun, tetapi kini hanya butuh waktu 0-5 tahun.

“Rerata narapidana teroris punya Medsos yang dapat digunakan sebagai sarana untuk meradikalisasi dan merekrut seseorang menjadi teroris,” kata Solahuddin pada diskusi di Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo),16 Mei 2018.

Peran Serta Semua Pihak

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Radikalisme dan terorisme, ibarat penyakit kanker yang harus dicegah sebelum tumbuh dan berakar di masyarakat.

Budaya gotong royong harus dipertahankan karena merupakan kunci untuk menutup celah paham radikalisme dan terorisme masuk ke lingkungan masyarakat, baik di kota maupun di pedesaan.

UU Terorisme telah ada, semua pihak harus bersatu padu menjadikan radikalisme dan terorisme musuh bersama. Apalagi di era digital sekarang ini, penyebaran berita hoaks, ujaran kebencian, radikalisme dan terorisme dengan mudah dikonsumsi masyarakat secara luas. Masyarakat harus tahu penyebarannya di internet dan Medsos dan bisa mengcounter radikalisme.

Kemenkominfo juga tak tinggal diam, gencar melakukan pengawasan dan menutup situs-situs yang kontennya berisi ajaran radikal. Dirjen IKP Kemenkominfo, Rosarita Niken Widiastuti, menyebutkan, telah memblokir 3.195 konten radikal hasil temuan sejak 21 Mei 2018.

Kepala BNPT, Komjen Pol Suhardi Alius, menegaskan, harus ada integrasi dalam menangani masalah radikalisme, baik di dunia maya maupun di lingkungan masyarakat.

“Jika ada hal yang mencurigakan, harus segera laporkan. Karena lebih baik mencegah sebelum kejadian,” tegasnya.

Pihak TNI/Polri bersama elemen masyarakat juga gencar mensosialisasikan empat pilar kebangsaan yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. Empat pilar kebangsaaan adalah pondasi yang dapat menyatukan bangsa Indonesia.

Seperti yang dilakukan Polda Sulawesi Selatan (Sulsel) bersinergi TNI dan Pemerintah gencar sosialisasi tangkal radikalisme dan terorisme untuk menjaga situasi Kamtibmas yang kondusif. Salah satunya menggelar diskusi publik ‘Sinergitas Anak Bangsa dalam Menangkal Radikalisme di Wilayah Sulsel’ dihadiri akademisi, pemuka agama, tokoh masyarakat, dan mahasiswa.

Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Dicky Sondani mengatakan, tangkal radikalisme harus dilakukan secara terpadu dan bersama-sama. Memperkuat aparat intelijen untuk mendeteksi ancaman terorisme di masyarakat.

“Kita perkuat peran camat, kepala desa/ lurah, RT dan RW dalam memantau lingkungannya. Serta meningkatkan sosialisasi kepada warga dalam menangkal radikalisme dan tetorisme,” jelas Dicky, Sabtu (15/9/2018).

Pencegahan tak hanya tugas aparat keamanan dan pemerintah, namun seluruh rakyat harus ambil bagian. Pemuka agama, tokoh masyarakat dan pimpinan kampus berperan mengajarkan kebaikan, perdamaian, serta toleransi.

Ketua Forum Rektor Indonesia (FRI), Prof Dr Dwia Aries Tina Pulubuhu, mengatakan, langkah antisipasi kampus adalah memperbanyak program pengembangan karakter dan kegiatan positif bagi mahasiswa. Seperti program Gerakan Unhas Mengaji dan Sholat Berjamaah (bagi mahasiswa beragama Islam) dua kali sebulan dan memberikan pendekatan ideologi kebangsaan kepada mahasiswa.

Mengcounter Radikalisme agar tak masuk kampus, maka setiap kampus kerja sama aparat terkait wajib gelar penyuluhan kepada mahasiswas,” kata Rektor Unhas.

Orangtua, guru, dosen harus turut memberikan pencerahan kepada generasi muda. Begitupun, mahasiswa merupakan agent of change harus memiliki landasan agama yang kuat dan jadi ujung tombak pencegahan.

Peran media (cetak, elektronik dan online) juga sangat penting dalam memberitakan bahaya radikalisme dan terorisme. Menyajikan informasi yang dapat mengedukasi, menutup ruang bagi berita provokatif dan selalu mengedepankan prinsip Jurnalisme Damai.

Kondisi sekarang, Negara harus hadir memberikan jaminan rasa aman  dengan serius memikirkan upaya melawan radikalisme dan terorisme. Memantapkan agande strategis, antara lain reformasi dan pembenahan regulasi sektor keamanan, reorientasi pendidikan, dan kampanye sosial-kultural secara massif.

Keterlibatan semua pihak bergotong royong dalam menangkal dan menutup ruang gerak radikalisme dan terorisme, maka akan tercipta suasana kerukunan, keamanan dan kedamaian di tanah air tercinta ini. Demi terwujudnya Indonesia Damai. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!