Pendidikan Era Milenial dan karakter Siswa di Abad 21 – UPEKS
Features

Pendidikan Era Milenial dan karakter Siswa di Abad 21

PENDIDIKAN adalah salah model atau style. Untuk melakukan sesuatu hal. Baik secara fisik maupun nonfisik. Sebab, education tidak bisa ditinjau dari hanya satu sudut pandang. Tetapi harus dilihat secara kompleks dan utuh jika ingin berbicara pendidikan.

Penulis: Jaharuddin

Sebab ada hal paling  essensial dan mendasar jika pendidikan ingin suskes dan berhasil, memang  kita melihat kontekstual secara etimologi pendidkan itu sangat  mudah namun realitas dan kondisi lapangan sangat krusial.

Ada beberapa komponen saling berkaitan dianataranya lingkungan keluarga(orang tua) Lingkungan sekolah (Guru) Lingkungan Masyarakat dan fasilitas pendidikan lengkap.

Ketiga komponen in tidak bisa terpisahkan satu sama lain,namun perlu  ada formula baru harus beradaptasi dengan era digital saat ini,sebab pola lama dan pola modern dalam mengedukasi pendidikan harus diakumulasi secara mudah sehingga peniddikan karakter siswa tetap terakomodir secara simultan.memang pendidikan anak kita sekarang sangat memperihatinkan khususnya pada pembinaan karakter jauh dari harapan kita bersama,kondisis saat ini jika tidak bisa diantisi pasi secara dini dengan pendidikan terpadu ketiga komponen tersebut akan lahir anak yang tidak bertanggung jawab,bahkan bisa jadi  beban negara itu sendiri,ini tidak bisa terlepas tanggung jawba kita sebagai orang tua dan masyarakat.

Untuk itu, pendidikan milenal  adalah pendidikan yang sudah dilengkapi  dengan berbagai fasilitas dengan tehnologi modern yang  tidak bisa dihindari malah justru kita harus siap menerimanaya apapun resiko dan ini jadi tanggungjawab kita sebagai manusia yang akan lahir diera  serba digital.Ada tiga hal yang penting dalam pendidikan jadi attensi yakni Agama, budaya dan Ilmu penegetahuan disertai dengan Tehnologi,ketiga hal ini harus bersinergi,jika ingin pendidikan kita bisa berkompetisi dengan negara lain yang ada didunia

Ketiga hal ini harus kita lebih  bijak dan dewasa serta profesional menyikapinya, sehingga guru yang lahir diera milenial maupun guru lahir sebelum ere milenial harus menyikapinya dengan menguasi ilmu penagtahuan dan tehnologi tidaka ada alasan untuk tidak berkreasi dalam memajukan dunia pendidikan serba internet,dengan kemajuan tekhnologi speed infromsi tdak bisa lagi bendung namaun sebaliknya kemajauan tersebut  perlu kita manafaatkan untuk berselancar didunia serba tehnologi.sebab saat ini kita berad pada wilayah syarat dengan inovasi sehingga guru harus memiliki skil yang mumpuni,dalam menghadapi era digital saat ini.

Era milenial membuat seorang sangat riskan sebab terjadi perubahan prilakau sangat signifikan terhadap  anak itu sendiri,ada hal yang terlupakan atau sengaja diabaikan dan ini tidak bisa dipungkiri. Karakter anak kita pada dasawarsa era milenial sangat memperihatinkan bagi kita semua alasan paling mendasar adalah karakter dan prilaku sangat cepat perubanhannya ,sebagai contoh mayoritas anak kurang mengahargai orang tuanya, maupun gurunya  tengok zaman era dulu santun anak betul tertanam hingga dewasa,sekarang terbalik,sifat soladaritas,saling menghargai dan menghormati mulai terkikis dengan sendirinya.bukan hanya itu kecenderunganya anak lahir era milenial selalau bertindak secara criminal dan narkoba,

Menurut zakiyyudin Badaruddin  generasi milenial memiliki tujuh sifat dan karakter dianataranya adalah; 1. Milenial lebih percaya kepada informasi interaktif dari pada infirmasi searah, 2. Milenial lebih memeilih ponsel dari TV, 3. Milenial wajib memeilki media social, 4. Milenial lebih senang membaca digital daripada membaca konvensional, 5. Milenial lebih tahu tehnologi dibanding orang tua mereka, 6. Milenial cenderung tidak loyal tapi efekjtif bekerja, 7. Milenial sudah mulai melakukan transaksi Cashless.

Oleh karena itu,seorang pendidik harus  menghadapi era milenial begitu kompleks tidak hanya bisa berpangku tanagan tapi harus kreatif sebab tantanagan ini tidak bisa kita hindari tapi harus diterobos dengan kreatifits dmiliki oleh setiap pendidik ( Guru),sehingga menghadapi  milenial tersebut,apakah guru dia lahir diera zaman digital (Guru muda ) atau  atau Guru lahir diera zaman era konvensional (Guru Tua) tetap siap sebab masing masing memilki tanggung ajwab yang sama sebagai pendidik,dalam mencerdaskan anak bangsa.

“Tentunya ada beberapa hal yang sangat prinsip harus dilakukan sebagai penerapan dan akselerasi  untuk menagtisipasi siswa diera milenial saat ini, yakni mengintegrasikan pembelajaran melalaui tehnologi seperti pembelajaran Bahasa Indonesia anak diinstruksikan mencari bacaan Novel,cepen dan sastra yang mengandung unsure nilai nilai moral kebaikan di internet.Pendidkan karakter juga harus dintegrasikan dengan berbagai pemebelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman,bagi siswa,karena mereka( siswa) memahami,menginternalisasi,dan mengaktualisasikan dalam setiap kegiatan pembelajaran sehingga nilai –nilai tersebut, dapat diserap dengan alami lewat aktivitas kesehariannya,jika memang nilai bisa dikembangkan melalu jalur kultur budaya dan pendidikan prasangka positif karakter pendidikanlebih efektif diterima anak.

Dunia pendidkan harus mampu menjawab tantangan  era  serba digital ,sehingga guru sangat dituntut untuk lebih berkreasi dan inovatif  untuk memanfaatkan kecanggihan tehnologi sebagai sumber belajar,media pembelajaran dan proses kegiatan belajar mengajar,tidak ada alasan Guru melek tentang keberadaan IT dan tehnologi bagaimanapun  hebatnya dan majunya tehnologi tidak bisa menggantikan kedudukan guru merupakan  kuinci utama dalam kesuksesan pendidikan.

“Salah satu pendapat Ahli tentang pendidkan karakter dikemukan secara rinci Prasetyo dan Rivasintha(2013:30) mendefinisikan,”pendidikan karakter adalah sebagai sebagai suatu sistim penanaman nilai nilai karakter kepada peserta didik,meliputi komponen pengetahuan,kesadaran atau kemauan dan tindakan untuk melaksanakan  nilai nilai tersebut,baik terhadap tuhan yang maha esa,diri sendiri, sesama lingkungan maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan Kamil.

Berdasarkan Pendapat diatas dapat kita berkesimpulan bahwa obyeknya dalam pendidkan karakter yakni  penanaman nilai – nilai sejak dini terhadap peserta didik,dan  bisa menajdi bahan  evalauasi bagi pendidik sebab salah satu penentu dalam mengembangkan karakter secara berkelanjutan adalah penanaman nilai niai moral secara terarah sehingga siswa memilki pondasai yanag kuat,untuk mengahadapi era kompetitior dan tehnologi semakin kompleks,untuk itu perlu adanya analisis lebih komprehensif dan tidak bisa terabaikan nilai agama dan  jadi penyokong prioritas dalam pembentukan karakter secara beretika,

Nilai dan etika dalam konteks  pendidikan harus sejalan dan saling mensupport sehingga targetnya ,pengembangan karakter siswa perlu dilakukan  pendekatan secara holistic,baik yang sifatnya personal maupun secara kelompok,pembentukan karakter perserta didik itu sangat mulia,secara  internal  ada beberapa karakter terdapat dalam diri manausia salah satunya adalah beretika dalam masyarakat.etika bergaul,etika berteman  baik secara formalitas maupun non formal.

Saat ini tidak bisa kita menutup mata bahwa nilai etika peserta didik zaman sekarang  penghargaan terhadap orang tuannya sudah mulai bergesar signifikan,itu diakabitkan dengan kemajuan tehnologi saat ini,Nah keberadaan tehnologi tidak bisa kita hindari,namun bagaimana kita menyikapinya secara mayoritas secara obyektif dan positif,tehnologi memiliki  manfaat bagi proes kehidupan manusia,dan kita harus jawab tanatangan itu secara dewasa dengan menghdirkan pembelajaran agama secara utuh.(*)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!