BMI: 2019 Momentum Akselerasi Pengembangan Bisnis Syariah – UPEKS
MAKASSAR CITY

BMI: 2019 Momentum Akselerasi Pengembangan Bisnis Syariah


MAKASSAR, UPEKS.co.id–Bank Muamalat Indonesia (BMI) meyakini tahun ini menjadi momentum akselerasi pengembangan bisnis syariah. Terutama di Sulsel seiring dengan semangat hijrah yang telah meluas hingga ke generasi milenial.

Hal tersebut diutarakan oleh Regional Head BMI Sulampua, Ahmad S. Ilham dalam acara Seminar Ekonomi Syariah di Nobel Convention Centre, Jl Sultan Alauddin No. 212, Makassar Rabu (09/01/19). Kegiatan yang mengangkat tema “Potensi Pengembangan Bisnis Syariah 2019 di Sulawesi selatan,” ini dihelat oleh STIE Nobel dan didukung oleh Bank Muamalat dan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES).

Ilham mengaku optimistis 2019 menjadi momentum akselerasi pengembangan bisnis syariah di Sulawesi Selatan seiring dengan tingkat literasi keuangan syariah yang terus menanjak meski dalam skala moderat. Menurut dia, kondisi tersebut berkolerasi pula dengan kecenderungan generasi milenial yang mulai beralih memanfaatkan produk berbasis syariah terutama pada aspek finansial berbagai segmen.

Untuk skala yang lebih jauh, pengembangan bisnis untuk beragam platform yang mengadopsi sistem syariah memiliki potensi yang relaltif besar di Sulawesi Selatan.

“terlebih jika kita menengok data statistik OJK terkait perbankan syariah yang seyogyanya menjadi indikator untuk pengembangan bisnis berbasis syariah,” kata pria yang akrab diaapa Ilo’ itu.

Adapun dalam seminar kali ini, terlaksana dengan tiga pembicara. Masing-masing dari OJK Regional 6 Sulampua diwakili oleh Kepala Bagian Kemitraan Pengembangan Keuangan dan Ekonomi Daerah, Andi Muhammad Yusuf. Kemudian Kepala Regional Bank Muamalat Salampua, Ahmad S Ilham dan Perwakilan Masyarakat Ekonomi Syariah, Dr Mukhlis Sufri SE MSI.

Sebelumnya, Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 6 Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua) mencatat, aset perbankan syariah tumbuh 5,03 persen secara tahunan (yoy) dengan nominal Rp 7,51 triliun di posisi Oktober 2018.

Realisasi tersebut sejalan dengan pertumbuhan aset perbankan konvensional 5,63 persen yoy dengan nominal Rp135,88 triliun. Sayangnya, pertumbuhan kredit tidak sebagus DPK.

Untuk Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan syariah mencatat pertumbuhan double digit 12,14 persen yoy dengan nominal Rp4,72 triliun, lebih tinggi dibanding pertumbuhan DPK perbankan konvensional 5,58 persen yoy dengan nominal Rp 88,94 triliun.

Namun untuk penyaluran kredit, perbankan syariah tak mengalami pertumbuhan. Bahkan penurunan di angka 1,75 persen.
Kendati demikian, kondisi ini memang terjadi secara menyeluruh. Termasuk bank konvensional.

“Secara umum pertumbuhan penyaluran kredit perbankan di Sulsel di angka 5,59 persen. Bank umum berkontribusi 6,03 persen dan bank syariah turun 1,73 persen. Secara umum terjadi penurunan bila dibandingkan dengan tahun lalu di angka 9,03 persen untuk keseluruhan bank di Sulsel,” kata Zulmi, Kepala OJK Regional 6 Sulampua, belum lama ini.

Zulmi mengaku, kondisi kinerja pembiayaan ini erat kaitannya dengan masih kurangnya edukasi dan inklusi jasa keuangan khususnya di perbankan syariah.

“Meski tahun ini beberapa kegiatan yang melibatkan bank syariah di Sulsel telah melakukan edukasi dan inklusi. Ke depan kita akan tingkatkan lagi,” ujarnya.

Sesuai catatan OJK, bank umum telah menyalurkan Rp 105,76 triliun hingga Oktober 2017, tumbuh melandai pada periode Oktober 2018 di angka Rp 112,13 triliun. Sedangkan bank Syariah, telah menyalurkan Rp 6,228 triliun pada Oktober 2017, dan pada Oktober 2018 di angka Rp 6,120 triliun. (hry).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!