Proses Pemisahan UUS Bank Sulselbar Terus Dikebut – UPEKS
ANEKA

Proses Pemisahan UUS Bank Sulselbar Terus Dikebut


JUMPA PERS. Jajaran Direksi Bank Sulselbar dalam jumpa pers terkait Performa Kinerja Keuangan PT Bank Sulselbar di 2018 di Kantor Pusat Bank
Sulselbar Jl Samratulangi Makassar, Jumat (11/01/19). Ist.

MAKASSAR,UPEKS.co.id—Kesiapan pemisahan atau spin-off Unit Usaha Syariah (UUS) dengan induknya Bank Sulselbar terus diproses.

Hanya saja, selain terkendala kecukupan modal, saat ini kembali terbentur kebijakan OJK bersama Asbanda.

Direktur Pemasaran dan Syariah Bank Sulselbar, Rosmala Arifin mengemukakan, spin-off syariah yang wajib di 2023 nanti, memang sempat dalam proses namun terhenti di semacam persimpangan dualisme.

Ada wacana dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Asosiasi Bank Daerah (Asbanda) melakukan penggabungan 13 Unit Usaha Syariah (UUS) Bank Pembangunan Daerah (BPD) se-tanah air.

“Dengan penggabungan itu plus Bank aceh dan NTB kita berada di bank syariah ke empat terbesar,” kata Rosmala dalam jumpa pers terkait Performa Kinerja Keuangan PT Bank Sulselbar di 2018 di Kantor Pusat Bank Sulselbar Jl Samratulangi Makassar, Jumat (11/01/19).

Rosmala melanjutkan, dalam perjalanan kebijakan penyatuan spin-off UUS tersebut masih timbul tenggelam. Sehingga, pihaknya memilih untuk tetap konsentrasi dalam proses spin-off yang telah dijalankan sebelumnya.

“Saat persentase di otoritas keuangan, kami tetap berjalan di jalur spin-off yang sudah kami susun dalam BPD spin-off kemarin,” ujarnya.

Sejauh ini, spin-off syariah Bank Sulselbar tengah dalam perencanaan membangun sistem sendiri. Tengah dirampungkan satu produk unggulan sendiri yakni Mudharabah Muqayyadah.

“Mudharabah Muqayyadah yang butuh sistem. Ini sementara proses bangun sistem itu. Tetapi semua terkait spin-off tahapannya sudah selesai,” ujarnya.

Terkait penambahan modal, Rosmala mengaku sudah ada sinyal oleh Pemda Takalar yang ingin menambahkan modal, namun akan dikhususkan ke syariahnya.  “Nah terkait modelnya seperti apa itu belum selesai,” sebutnya.

Sebelumnya, Pemimpin Grup Unit Usaha Syariah Bank Sulselbar, Iswadi Ayub, mengutarakan, blue print menuju spin-off telah disusun dari 2017 lalu. Tahapannya telah dilakukan sedemikian rupa.

Beberapa hal yang cukup substansial untuk dipersiapkan. Utamanya soal penyertaan modal. Induk itu minimal harus punya modal Rp3 triliun sebelum melakukan penyertaan modal sebesar Rp500 miliar. Sejauh ini memang belum cukup, baru berkisar Rp2,6 triliun lebih.

Sebagai informasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan batas waktu hingga akhir 2023 untuk setiap Unit Usaha Syariah (UUS) yang ada di beberapa sistem. Hal itu mengacu pada Undang-undang (UU) Perbankan Syariah Nomor 21 Tahun 2008.

Dalam aturan itu mewajibkan UUS dari Bank Konvensional untuk melakukan spin off atau pemisahaan diri dari induknya pada Desember 2023. Kalau sudah di spin off tidak boleh masuk menjadi konvensional lagi. Kalau setelah 2023 tidak boleh mendirikan UUS lagi, Harus Bank Usaha Syariah. (hry).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!