Optimisme Caleg Duafa: Miskin Fulus, Kaya Gagasan – UPEKS
ANEKA

Optimisme Caleg Duafa: Miskin Fulus, Kaya Gagasan

Oleh: Nursandy Syam***

Pemilu legislatif kurang lebih tersisa 3 bulan lagi. Waktu yang sangat mahal dan tentunya berharga bagi para calon  anggota legislatif yang sedang berkontestasi. Awal tahun 2019, ibarat lari maraton.

Ada caleg yang penuh semangat berlari di awal tapi mengalami penurunan stamina di tengah jalan. Ada pula
caleg yang tampak pelan bersosialisasi sebelumnya tapi perlahan makin kencang.

Yang pasti, Januari adalah penanda bagi hampir semua para caleg mulai meningkatkan kecepatan berlari
menaikkan intensitas sosialisasinya. Berlomba mendapatkan sorak-sorakan dan tepuk tangan yang meriah dari  pemilih hingga ke garis finis.

Bagi banyak pihak dan mungkin caleg itu sendiri, rasanya yang memiliki kepantasan untuk berlari kencang hanya  bisa dilakukan oleh caleg yang memiliki stamina logistik yang prima. Tentu, alasan itu ada benarnya.

Membuka rute kemenangan bagi caleg memang membutuhkan kecukupan modal baik itu modal gagasan, modal  sosial hingga modal ekonomi. Ketiganya merupakan kepingan puzzle yang tak terpisahkan dan satu kesatuan  yang utuh.

Lalu, mampukah caleg yang hanya memiliki “fulus” pas-pasan bahkan tak bisa dikatakan cukup, bisa memacu  kecepatan dan menyaingi caleg yang memiliki modal yang melimpah? Tentu masih relatif menjawabnya, tapi  mutlak akan kesulitan bahkan tertatih dalam mengatur ritme kecepatan.

Biaya politik kita makin mahal, caleg “duafa” atau yang tak siap secara pendanaan untuk berkompetisi tentu sulit  memiliki fleksibilitas dalam bergerak. Sebaliknya, caleg yang punya modal berkelimpahan akan lebih punya banyak  ruang untuk menentukan volume program dan intensitas kunjungan menemui masyarakat pemilih.

Menyoal peluang terpilih, belum sepenuhnya tertutup. Caleg “duafa” identik dengan segudang gagasan dan  memiliki integritas. Gagasan itulah optimisme yang perlu ditonjolkan dan dimassifkan menembus pikiran dan  menyentuh hati pemilih.

Gagasan adalah kekuatan utama. Politik gagasan bisa menjadi pembeda dan memberi warna serta harapan bagi  pemilih ditengah suramnya wajah parlemen kita.

Momentum ini harus direbut bagi caleg yang kaya gagasan, tawarkan dan cerahkan mindset masyarakat kita.  Tunjukkan cara dan pendekatan berpolitik yang seharusnya.

Bukankah hari ini, masyarakat sudah semakin cerdas bahkan kita rasakan bersama semakin terang fenomena  kejenuhan dan perasaan ”muak” dalam batin masyarakat akan sikap dan perilaku sebagian wakil rakyat dalam  menjalankan tugasnya.

Teruslah bertempur gagasan dan merawat semangat kebangsaan!!!

***Penulis, Manager Strategi & Operasional Jaringan Suara Indonesia

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!