Ternak Belatung Lebih Bagus Dibanding Cacing – UPEKS
MAKASSAR CITY

Ternak Belatung Lebih Bagus Dibanding Cacing

Purwanto SE, anggota BA Ops Satbrimob Polda Sulsel. Didampingi istri tercinta. -ist-

RENCANA ternak cacing. Terlupakan sudah. Kalah dengan belatung. Aiptu Purwanto melihat ada potensi lebih bagus. Kalau ternak belatung.

Tapi bukan sembarang belatung. Ini jenis lain. Namanya; belatung lalat tentara hitam. Kerennya, maggot Black Soldier Fly (BSF).

Aiptu Purwanto SE, seorang anggota BA Ops Satbrimob Polda Sulsel. Punya semangat tinggi. Dan tertarik dengan masalah lingkungan hidup. Dan industri pertanian. Meskipun sehari-harinya dia seorang polisi.

Memelihara maggot BSF. Ternyata lebih bagus. Lebih mudah. Lebih praktis. Hanya bermodal wadah plastik bekas. Sudah cukup. Bisa ember bekas. Jergen tidak terpakai. Atau baskom bekas.

Ternak belatung BSF untungnya dua. Sampah organik di rumah bisa terurai. Dan bisa menghasilkan pupuk cair organik hayati. Tapi bisa juga jadi pakan ikan. Bahkan sangat disukai ayam.

Cuma. kalau diberikan ke ikan atau ayam jangan keseringan. Cukup satu atau dua kali seminggu.

“Karena belatung ini memiliki konsentrasi protein  yang tinggi. Sehingga ikan atau ayamnya akan sangat gemuk,” katanya.

“Ini sebenarnya cukup bagus dan efektif kalau mau mengatasi sampah organik di kota,” kata Aiptu Purwanto, kepada wartawan, Senin (14/1/19).

Belatung BSF sangat cepat mengurai sampah. Dibanding menggunakan cacing tanah. Belatung lalat tentara hitam ini sangat cepat kerjanya.

“Kalau wadahnya agak besar. Misal, ember ukuran 60 liter. Sudah bisa mengurai sampah 50 kg hanya dalam empat hari,” katanya.

Kini. Purwanto, sudah mampu menproduksi pupuk cair organik hayati BSF. Bahkan sudah punya merek: Bio Maggot Teratai. Ini pupuk organik cair.

Selain itu, Purwanto, juga sedang mengembangkan pupuk tabur. Berbentuk powder. Seperti tepung. Juga hasil dari ternak belatun lalat tentara hitam ini. Nama produknya: GSP Gold, Pupuk Hayati Tabur Pembenah Tanah.

Dia juga sudah memeriksa kualitas produknya di Unhas.

Hanya saja. Memang skalanya masih terbatas. Karena dia belum punya lahan yang cukup. Untuk pengembangan lebih besar.

Saat ini Purwanto sedang memikirkan untuk menambah kapasitas produksi. Untuk memenuhi kebutuhan pupuk organik di daerah ini.

Pria empat anak ini, mengatakan pihaknya juga sedang berupaya mendapat hak paten atas produknya tersebut.

Didampingi Istri tercinta, Purwanto mengungkapkan, saat ini di kediamannya, sudah ada empat wadah untuk produksi pupuk itu.

“Di rumah baru empat tempat, tapi produksi pupuknya sudah ada. Hanya, saya memberikan secara gratis kepada teman yang membutuhkan,” kata pria Kelahiran Purworejo. 18 Mei 1976 ini.

Disamping kesibukannya sebagai sorang polisi, Purwanto, juga mulai kerap dipanggil berbicara terkait masalah maggot BSF.

Sejumlah pemerintah daerah sudah memanggilnya untuk berbicara pada pelatihan-pelatihan terkait lalat tentara hitam. Dia yakin, ternak belatun BSF ini bisa menjadi salah satu solusi permasalahan sampah ibu kota. Khususnya sampah organik.

Dia bahkan punya konsep khusus mengatasi masalah sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tamangapa, Antang.

“Masalah sampah di sana bisa dengan maggot BSF. Caranya, harus dihijaukan dulu kelilingnya. Dibuat tempat habitat hidupnya lalat tentara hitam ini. Baru kemudian dibuat tempat pengolahan sampah organik tadi.Tentu menggunakan maggot ini, ” katanya.

Dia berharap, ke depan produk pupuk yang dihasilkannya dapat memberikan manfaat kepada warga, baik petani maupun warga kota Makassar. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!