Dua SLB Keluhkan Minimnya Guru – UPEKS
SULAWESI SELATAN

Dua SLB Keluhkan Minimnya Guru

Kepala Sekolah SDLB Negeri 1 Kowioha Wundulako, Ansarullah

KOLAKA, UPEKS.co.id–Dua Sekolah Luar Biasa (SLB) yaitu Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) dan Sekolah Menengah Pertama (SMPLB) di Kecamatan Wundulako. Dua SLB yang letaknya saling bersebelahan ini memiliki persoalan yang sama. Mengeluhkan minimnya tenaga guru dan persoalan birokrasi sejak dialihkan ke Pemprov Sultra 2017 lalu.

Kepala Sekolah SDLB Negeri 1 Kowioha Wundulako Ansarullah kepada media mengungkapkan, permasalahan yang dihadapi oleh SDLB ini yaitu masalah minimnya guru mau mengajar.

Dengan jumlah murid yang begitu banyak mencapai 52 murid, tidak seimbang dengan guru yang ada hanya berjumlah 14 orang saja. Dari 14 orang guru ada 5 orang yang pegawai negeri dan sisanya itu adalah tenaga Guru Tidak Tetap (GTT).

Pada hal menurut Ansarullah, idealnya dalam proses belajar mengajar di SDLB ini yaitu satu guru untuk tiga orang murid, baru proses belajar mengajar itu bisa efektif.

Dikatakannya bahwa mengajar di SDLB tentunya sangat jauh berbeda dengan mengajar di sekolah yang kondisi mental anak murid normal.

Menghadapi anak dengan kondisi mental yang tidak normal itu membutuhkan kesabaran serba ekstra.

“Jadi kami selaku guru yang mengajar kepada anak dengan keterbatasan mental, itu membutuhkan kesabaran ekstra,” kata Ansarullah.

Dikatakannya bahwa metode dalam proses belajar mengajar yang diterapkan oleh para guru adalah bagaimana membentuk anak-anak bisa mandiri, artinya bagaimana anak itu mampu membersihkan dirinya tanpa bantuan orang lain.

“Itu adalah hal yang paling pokok kami lakukan untuk membentuk anak-anak yang memiliki keterbatasan mental,” kata Ansarullah.

Selain itu kata Ansarullah bahwa persoalan yang dihadapi yaitu proses birokrasi semakin panjang. Sejak sekolah ini dialihkan ke Pemerintah Provensi, ketika menyangkut masalah proses administrasi, misalnya ada surat yang harus ditandatangani pejabat di Diknas. Maka surat itu harus diantar dengan menempuh perjalanan dengan kendaraan roda dua atau roda empat minimal 3,5 jam baru bisa tiba.

Karena sekolah ini sudah diambil alih oleh provensi maka untuk ketika ada surat-surat yang mau ditandatangani oleh pejabat dinas maka dokumen itu harus dibawah ke Kendari, dengan menempuh perjalanan minimal 3,5 jam perjalanan dengan kendaraan roda dua atau roda empat baru bisa tiba.

“Setelah sampai di kendari belum tentu pejabatnya berada ditempat,” keluh Kepsek Ansarullah.

Ketika SDLB ini belum dialihkan ke Pemprov Sultra, bilamana ada surat-surat mau diurus atau mau ditandatangani Diknas tidak sulit, dan tidak menyita waktu.

Selain itu kata Kepsek Ansarullah banyak anak murid yang tinggalnya jauh, sehingga itu juga menjadi salah satu kendala tidak efektifnya dalam proses belajar mengajar.

“Seharusnya ada asrama agar proses belajar mengajar bisa lebih efektif,”katanya.

Terkait masalah anggaran dana Biaya Operasional Sekolah(BOS) hanya menerima anggaran sebesar Rp24 juta pertriwulan.

“Anggaran ini sangat tidak memadai dalam melakukan proses belajar mengajar di SDLB ini,” ujar Ansarullah.(pil)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!