NASIONAL

Pemerintah Siap Cetak 9 Juta SDM Ahli Teknologi

 

 

JAKARTA, Upeks.co.id– Perkembangan teknologi digital tidak terbendung lagi. Jika tidak dibarengi dengan SDM yang andal, maka Indonesia hanya akan menjadi konsumen sejati saja.

Masalah ini pun menjadi perhatian pemerintah. Merujuk studi World Bank, Indonesia paling tidak harus memiliki tambahan 9 juta SDM di bidang teknologi yang mumpuni.

Untuk itu, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Rudiantara bertekad akan meningkatkan kompetensi SDM dengan keahlian dgital.

“Berdasarkan (data World Bank), dibutuhkan klasifikasi digital talent dari basic digital skill, intermediate digital skill dan advance digital skill. Gimana caranya, Kominfo kan enggak ngerti?,” kata Rudiantara di Jakarta, Selasa (12/3).

Namun, menteri yang biasa disapa Chief RA itu, akan memulai di perguruan tinggi dengan menerapkan kurikulum berbasis teknologi seperti yang digunakan perusahaan teknologi besar di dunia.

“Seperti Google, Microsoft, mereka punya akademi-akademi yang bagus di negaranya. Setiap akademi yang bagus itu ditunjang dengan silabus dan mata pelajaran yang bagus-bagus,” ujar Chief RA.

Chief RA, tidak setuju dengan anjuran akademisi untuk melakukan studi banding, karena bisa menghabiskan waktu hingga empat tahun lamanya. Usus dia, mencontek kurikum akademi-akademi besar di dunia.

“Daripada lama, contek aja yang bagus, kemudian kita cari mana yang bisa dilakukan di Indonesia dan mana yang tidak,” ucap Chief RA.

Ungkap Chief RA, sejak tahun 2018 pihaknya telah bekerjasama dengan dengan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi untuk melakukan sebuah pilot project pendidikan digital. Ada 1.000 orang dilibatkan dalam proyek tersebut.

“Pilot projectnya kami lakukan (dengan Kemenristekdikti) tahun 2018, kami mau rekrut seribu (orang), tapi yang daftar 46 ribu, yang ikut tes online sampai akhir 21 ribu, yang diterima seribu,” ungkap Rudiantara.

“Dari yang seribu itu, yang tersertifikasi itu cuma 980 orang. Karena kan ujung-ujungnya mereka harus tersertifikasi agar bisa masuk ke dunia kerja, ke start up, atau jadi enterpreneur,” tambahnya.

Satu kelas akan fokus satu pelajaran, mislkan kata Chief RA, pelajaran komputerasi, siswa akan fokus untuk mempelahir komputer saja.

“Tujuannya yang penting Indonesia punya template yang bisa sebarkan kepada korporasi agar mereka bikin CSR,” kata Chief RA.

Sementara ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Muhammad Faisal mendukung langkah yang diambil pemerintah untuk dunia pendidikan agar menjadi lebih baik.

“Saya kira memang sudah sepantasnya arah pendidikan mengikuti perkembangan teknologi dan permintaan pasar tenaga kerja yang mengalami pergeseran,” ujar Faisal kepada Fajar Indonesia Network (FIN), Selasa (12/3).

Namun, saran Faisal, pemerintah juga mendorong untuk mempekerjakan penggaguran di Indonesia khususnya pendidikan masyarakat kelas bawah.

“Asalkan juga harus mendorong upaya menyerap sebagian besar penganggur yg saat in berpendidikan menengah ke bawah, yang sukar untuk bisa diserap oleh industri teknologi tinggi,” pungkas Faisal.(din/fin)

To Top