POLITIK

Aliyah Mustika Ilham Berhasil Kembali Duduk di Senayan, Begini Tulisan Inspiratif Tim kAMI

MAKASSAR, UPEKS.co.id— Perempuan Sulawesi Selatan (Sulsel) patut berbangga karena ada yang ‘mewakili kaum perempuan’ berhasil duduk di Senayan yakni Aliyah Mustika Ilham (AMI).

Bahkan, Aliyah menjadi satu-satunya perempuan dan peraih suara terbesar di Kota Makassar
dari delapan calon legislatif (Caleg) yang lolos duduk di DPR RI dari dapil 1 Sulsel.

Atas pencapaian tersebut, Aliyah mengaku sangat bersyukur. “Alhamdulillah, hasil pleno KPU Sulsel dan atas izin serta ridho Allah SWT. Kami masih diberi amanah dan kesempatan untuk melanjutkan pengabdian sebagai Wakil Rakyat di DPR RI (2019-2024). Terima kasih atas doa, dukungan dan bantuannya. Semoga Allah SWT membalas ketulusan bapak, Ibu dan Saudara. Aamin YRA,” kata Hj. Aliyah Mustika Ilham, SE.

Tidak hanya itu, pencapaian tersebut juga dituangkan dalam tulisan oleh tim Hj Aliyah Mustika Ilham yang tentunya bisa jadikan inspirasi, khususnya bagi kaum perempuan.

Tulisan tim komunitas Aliyah Mustika Ilham (kAMI) yang dikutip Harian Ujungpandang Ekspres (Upeks), Rabu (15/5/2019), berjudul “Doa dan Ikhtiar Tidak Menghianati Hasil” sebuah catatan perjuangan Aliyah Mustika Ilham (AMI).

Rapat Pleno KPUD Makassar telah mengukuhkan nama Hj. Aliyah Mustika Ilham sebagai peraih suara terbesar di Kota Makassar diantara 8 Caleg DPR-RI dari Dapil- I Sulsel, sekakigus menetapkannya sebagai Caleg yang berhasil lolos menjadi anggota DPR-RI periode 2019-2024.

Capaian ini tentu saja mengejutkan bagi banyak pihak, termasuk mungkin mengecewakan bagi pihak tertentu.

Mengejutkan dan mengecewakan, tentulah bukan tanpa alasan. Bagaimana mungkin seorang AMI mampu melewati semua masalah dan rintangan untuk mencapai semua ini. Bukankah AMI hanyalah seorang Perempuan biasa, yang hari ini bukanlah siapa-siapa lagi. Bahkan karena takdir-Nya, AMI terpaksa harus bekerja ‘Sendiri’ di tengah kesibukannya sebagai seorang Ibu dari 4 anak-anaknya.
Saat ini, AMI juga harus menjalani kehidupan sosialnya sebagai Kepala Rumah Tangga, yang harus mengurusi banyak hal selain urusan ‘maccaleg’.

Sukses story ini tentu saja tidak berlebihan untuk disebut sebagai story yang luar biasa. Bagi banyak pengamat, capaian ini sungguh di luar dugaan, unpredictable. AMI harus berjuang ‘sendiri’ dalam segala keterbatasan, baik sebagai perempuan biasa, maupun karena harus berjuang dengan segala kondisi yang secara sosio-psikologis, sangatlah berat untuk dijalani oleh seorang perempuan.

Bahwa perjuangan politik AMI sangat berat, tentu bukan tanpa alasan. AMI berada dan berjuang di ‘Dapil Neraka’. Dengan segala keterbatasan, AMI harus berjuang dan bersaing dengan sejumlah kompetitor politik yang sudah punya nama-nama besar di kancah politik Sulsel. Bahkan, juga harus berjuang di Kota Makassar yang nota bene agak ‘mustahil’ untuk bisa tampil sebagai peraih suara terbesar di kota ini.

Kompetitor politiknya, disamping tokoh-tokoh politik yang sudah punya nama besar itu. AMI juga harus bersaing dengan keluarga penguasa yang juga ikut ‘maccaleg’.
Tapi hari ini, semua halangan dan rintangan itu, AMI mampu lewati dengan cara yang sangat elegan dan sempurna: AMI peraih suara terbesar, dan itu dicapai dengan status yang ‘Zero Social Accident’!

Tidaklah mudah bagi seorang AMI untuk tiba pada capaian ini. AMI harus keluar masuk pelosok kampung, dari lorong ke lorong, dari rumah ke rumah warga, dari gedung ke gedung pertemuan lainnya, bahkan dari pulau ke pulau. Ribuan titik pertemuan dengan warga telah ia lakukan, dari berbagai kalangan dan lapisan masyarakat, baik di siang hari maupun malam hari. Ribuan kilometer jalan dan jembatan telah ia jajal, tidak terkecuali ratusan kali harus menyeberangi lautan demi menemui warga.

Meski harus diakui bahwa, pertemuan demi pertemuan dengan warga, pastinya tidaklah selalu mulus. Di beberapa titik pertemuan dengan warga, terpaksa harus menerima kenyataan, ‘ditolak’ oleh penguasa setempat. Ratusan Alat Peraga Kampanye (APK) AMI juga harus menerima nasib yang sama, dirusak atau malah ‘dilarang’ untuk dipasang oleh ‘penguasa’ lokal.

Dalam kondisi sedemikian itu, AMI tidaklah surut semangat untuk terus berjuang, rintangan demi rintangan mampu dilalui dengan cara yang sangat elegan. Tak sekalipun pernah terdengar ada konflik sosial yang berarti di lapangan. Apa yang terjadi justru sebaliknya, AMI selalu mendapat sambutan yang antusias dari warga di setiap titik pertemuan, terasa betul selalu ada aura ‘kerinduan’ di sana.

Hari ini, KPU telah mengukuhkan, maka kini saatnya AMI untuk kontemplasi lebih dalam, mulai merenungi apa yang telah dan akan terjadi. Mulai meramu seluruh aspirasi yang sudah terekam. Dunia politik sejatinya memang selalu menyisakan memory di setiap perjuangan, tapi disamping itu, tentu juga harus mulai mempersiapkan rencana-rencana baru untuk kemaslahatan orang banyak yang ajan diwakilinya. Termasuk mulai memikirkan langkah-langkah Politik selanjutnya dari sang ‘Srikandi Pejuang’, tentu tetap dalam bingkai politik yang Logis dan Realistis, rakyat menunggu!! (mimi)

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!